Kamis, 14 Oktober 2010

BAGAIMANA CARA MENGANGKAT, MELETAKKAN DAN MENGGENDONG BAYI BARU LAHIR

BAGAIMANA CARA MENGANGKAT, MELETAKKAN DAN MENGGENDONG BAYI BARU LAHIR
Mengangkat Bayi
Melihat bayi yang lucu dan menggemaskan, ibu mana yang tidak ingin menggendongnya? Tapi si kecil terlihat belum berdaya. Tenang, dengan sedikit latihan, orangtua bisa mengangkat bayi dari tempat tidur dengan baik. Berikut caranya
1. Saat bayi telentang, masukkan tangan kiri (kanan) ke kepala dan leher. Lalu barengi dengan menyisipkan tangan kanan (kiri) ke bagian pantat hingga punggungnya.
2. Pastikan kedua tangan menyangga seluruh badan bayi, khususnya bagian leher yang masih tergolong rawan.
3. Letakkan bayi di dekapan. Satu tangan tetap menyentuh bokong hingga punggung. Sementara tangan yang satu menyangga kepala dan leher.
4. Usahakan posisi pantat lebih rendah dari posisi kepala .
Meletakkan bayi baru lahir
Berikut langkah-langkahnya :
1. Dekatkan bayi dengan tubuh, bungkukan badan, sementara satu tangan di bokong bayi , tangan lain menyangga punggung, leher dan kepala. Letakkan perlahan di tempat tidur.
2. Jangan terlalu cepat menarik kedua tangan. Biarkan kedua tangan anda berada di bawah tubuh bayi untuk beberapa saat. Setelah bayi dirasa nyaman lalu tarik kedua tangan secara perlahan.
Cara menggendong bayi
Inilah beberapa cara menggendong bayi disesuaikan tahapan usianya
Usia 0 – 3 bulan
Ini cara menggendong yang paling lazim pada bayi baru lahir. Posisi bayi dibiarkan berbaring di lengan. Kepala dan leher berada di lipatan siku sedangkan tangan yang lain menahan punggung hingga pantat bayi.
Usia 4 bulan
Satu lengan menopang kepala sebagian punggung serta leher bayi. Sedangkan tangan lain memegang pantat dan kaki. Posisi bayi setengah duduk di atas pangkuan. Badannya bersandar ke dada ibu dan pandangannya menghadap ke depan. Bayi merasakan kahangatan dari detak jantung ibunya.
Usia 5 bulan ke atas
Bayi didudukkan di pinggang, dengan topangan salah satu lengan. Kedua kaki bayi melingkar di badan ibu.
Usia 6 bulan
Menggendong di punggung dapat dilakukan pada bayi usia 6 bulan keatas. Di usia itu, otot bayi sudah kuat. Lehernya pun mampu menopang kepala dengan baik. Ini umumnya dilakukan dengan bantuan gendong. Menggendong dengan cara ini membuat kedua tangan ibu bebas melakukan aktifitas lain.
Menggendong bayi dari posisi telentang
Sanggalah leher & pantatnya. Sebelum menggendong dekatkan tubuh anda pada si kecil. Kemudian selipkan satu tangan (kiri) ke bawah kepala & lehernya dan tangan yang satu diletakkan di bawah pantatnya. Sambil mengangkat anda boleh membisikkan kata-kata hikmah yang bisa menenangkan sehingga si kecil merasa nyaman.
Jagalah agar posisi kepala sedikit lebih tinggi dari bagian tubuh yang lain.
Menggendong Bayi dari Posisi Tengkurap
Topang leher dan perutnya dengan tangan. Selipkan tangan kanan di antara kaki untuk menopang perut dan dadanya. Selanjutnya selipkan tangan kiri Anda sehingga menopang pipi.
Angkat dan balikkan bayi ke arah Anda. Angkat tubuh si kecil perlahan, sambil memutar badannya ke arah tubuh Anda. Perlahan, geser tangan yang sebelumnya menopang pipi ke arah pangkal lengannya. “Kunci”posisinya dengan mengapit lengannya dengan jari-jari di tangan kiri Anda. Jangan lupa untuk menjaga agar posisi kepalanya lebih tinggi dari bagian tubuh yang lain.
Yang harus diingat, otot leher bayi baru lahir belum berkembang hingga usianya tiga bulan. Selama itu, saat menggendong Anda harus menopang lehernya.
PENTING !
JANGAN terlalu erat mendekap saat menggendong, karena bisa membuat bayi tidak nyaman. Rewel atau gelisah merupakan salah satu tanda bayi tidak nyaman dengan cara menggendong Anda. Jangan mengguncang atau mengayun-ayun bayi terlalu keras saat menggendong, karena bisa menyebabkan perdarahan di otak.


Sudahkah Anda Berbicara dalam Bahasa Cintanya

Sudahkah Anda Berbicara dalam Bahasa Cintanya 


Dua insan jatuh cinta, naik ke puncak “pengalaman jatuh cinta”, menikah, dan perlahan-lahan turun dari ketinggian puncak. Apa yang terjadi pada cinta setelah pernikahan? Mengapa banyak pasangan yang begitu berbunga-bunga saat masa-masa pacaran, namun kemudian kehilangan kasih sayang setelah tahun-tahun pernikahan?

Persoalan yang sebenarnya mungkin adalah kedua pasangan bukanlah kehilangan cinta kepada pasangannya, namun saling mengungkapkan cinta dalam bahasa yang berbeda sehingga sukar untuk dipahami. Untuk menjadi komunikator cinta yang efektif, menurut Gary Chapman dalam bukunya,Five Language of Love atau yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, Lima Bahasa Kasih, setiap pasangan perlu saling mempelajari Bahasa Cinta masing-masing agar ungkapan kasih sayang dapat benar-benar dipahami oleh si dia. Jika Anda mengatakan “I love you”, namun yang dipahami pasangan Anda adalah “wo ai ni”, maka jelaslah ribuan ucapan “I love you” pun tak akan menyampaikan pesan apa-apa baginya. Anda harus belajar berbicara dalam bahasanya.

Chapman memaparkan dalam bukunya, ada 5 bahasa yang digunakan untuk mengungkapkan kasih sayang:

1.       Kata-kata Pendukung
Dia yang memiliki kata-kata pendukung sebagai Bahasa Cinta-nya akan memberikan banyak kata-kata positif bagi pasangannya, dan sebaliknya juga mengharapkan ungkapan yang sama sebagai bukti cinta dari Anda. Kata-kata negatif dari Anda bisa sangat menyakiti hatinya, karena baginya kata-kata bukanlah senjata perang, namun alat ungkapan kasih sayang.

2.       Saat-saat Mengesankan
Ia mengharapkan waktu berduaan dengan Anda dan perhatian Anda sepenuhnya tertuju padanya, bukan pada game di layar komputer Anda  ataupun pertandingan bola di televisi. Sebaliknya ia pun akan memberikan waktu dan perhatiannya sebagai ungkapan cintanya pada Anda.

3.       Menerima Hadiah-hadiah
Ia sering memberikan hadiah-hadiah kepada Anda, tak hanya di hari spesial Anda. Jika Anda terlalu pelit untuk memberikannya suatu pemberian, ini akan mengecewakan hatinya, sebaliknya hadiah kecil pun akan begitu berarti baginya, tak pandang seberapa besar nilai dan harga pemberian itu.

4.       Pelayanan
Ia cenderung melayani dan menolong Anda ataupun membantu Anda mengerjakan proyek-proyek Anda. Baginya pelayanan dan bantuan dari Anda, seperti membantu membersihkan rumah dan membereskan peralatan setelah makan merupakan ungkapan cinta yang sangat berarti.

5.       Sentuhan fisik
Ia sering menyentuh Anda, seperti membelai kepala atau punggung Anda. Baginya sentuhan Anda merupakan bukti cinta Anda, ketiadaan sentuhan ini merupakan juga ketiadaan kasih sayang Anda baginya.

Yang manakah Bahasa Cinta Anda dan pasangan Anda?

http://www.charismaindonesia.com/index.php/news/_Sudahkah-Anda-Berbicara-dalam-Bahasa-Cintanya_/210

membesarkan anak laki-laki

Pagi ini saya ditelpon oleh seorang ibu yang tidak saya kenal sebelumnya. Namanya Liana (bukan nama sebenarnya). Liana mendapatkan nomor telepon dan materi seminar saya dari seorang teman yang pernah hadir di seminar parenting saya di salah satu sekolah di Tangerang. Setelah mendengar keluh-kesah Liana selama beberapa saat, saya pun mulai menebak-nebak kalau yang bermasalah itu adalah anak laki-lakinya. Ternyata dugaan saya benar. Saat menanyakan apa peran ayah dalam membesarkan anak tersebut dan dijawab dengan TIDAK ADA, maka dengan mudah saya dapat menjabarkan akar masalah.
Pada dasarnya, dalam sebuah keluarga, jika peran ibu begitu dominan, sedangkan ayah hampir tidak punya andil dalam pengasuhan anak-anaknya, maka bisa dipastikan bahwa dampak negatif akan sangat terasa dan terlihat nyata pada anak laki-laki saat mereka dewasa nantinya. Setelah mendengar ulasan dan kupasan dari saya, Liana langsung menghubungkannya dengan kenyataan yang ada dalam keluarga besarnya. Liana dan saudara perempuannya sangat mandiri dan dominan, sedangkan saudara laki-lakinya tidak ada yang berhasil. Hal yang sama juga terjadi dalam keluarga suaminya.
Pelajaran berharga yang selama ini saya dapatkan dari buku-buku parenting yang berhubungan dengan kasus-kasus parenting yang ‘datang’ pada saya adalah bahwa masa depan anak-anak kita sangat bergantung kepada cara kita membesarkan dan membimbing anak laki-laki agar kelak menjadi menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab dan punya sikap terhormat. Karena saya sendiri juga memiliki seorang anak laki-laki, maka ketertarikan akan hal-hal yang berhubungan dengan bagaimana sepatutnya seorang anak laki-laki dibesarkan tentu saja menarik perhatian saya juga.
Apa yang dibutuhkan anak laki-laki?
1. Pembentukan Karakter
Agar pembentukan karakter anak laki-laki berjalan mulus dan lancar, maka dibutuhkan seorang pemimpin yang bisa menunjukkan arah dan jalan yang tepat serta mengajari anak ilmu kehidupan. Karakter yang kuat akan menumbuhkan jiwa kepimpinan dalam diri seorang anak laki-laki. Dan, ini sangatlah penting karena pemimpin sebuah keluarga seharusnya adalah sang suami. Itulah sebabnya, peran seorang ayah atau laki-laki yang lebih tua lainnya menjadi penting karena untuk tumbuh menjadi laki-laki sejati, anak laki-laki sangat membutuhkan teladan dari laki-laki dewasa.
Perbedaan struktur otak perempuan dan laki-laki juga menjadi salah satu penyebab yang membuat pembentukan karakter akan lebih kuat dan efektif dalam diri anak laki-laki jika dilakukan oleh ayah atau laki-laki dewasa lainnya. Kata-kata dari salah satu buku yang masih saya ingat sampai hari ini adalah: Jika anak laki-laki anda sudah setinggi ibunya, biarkanlah pengajaran ‘ilmu kehidupan’ untuk dirinya diambil alih oleh sang ayah.
Saat ini, yang menjadi masalah utama adalah orangtua menghabiskan terlalu sedikit waktu dengan anak laki-lakinya. Akibatnya, anak laki-laki yang pada dasarnya punya sifat ingin menang, suka berkompetisi dan ingin menjadi bintang ataupun superhero akan lebih condong pada kelompok teman sebaya atau pahlawan yang ditampilkan media. Tanpa adanya teladan dari laki-laki dewasa yang lebih tua untuk membantu anak laki-laki memahami proses pembentukan jati diri yang sedang berlangsung, maka kelak akan timbul banyak masalah dalam keluarga.
Beberapa waktu yang lalu, selesai memberikan seminar di salah satu sekolah di daerah Jakarta Selatan, kepala sekolah minta waktu untuk berbicara sebentar dengan saya. Dia menyampaikan keprihatinannya bahwa seiring meningkatnya persentase orang tua tunggal di sekolah, semakin banyak pula anak didiknya yang bermasalah. Ayah dari anak-anak ini banyak yang pergi begitu saja tanpa kesan dan pesan. Hati saya ikut terenyuh. Jelaslah ini akibat dari kegagalan dalam mendidik anak laki-laki kita. Sehingga ketika dewasa, mereka tidak mampu untuk berkomitmen, mudah lari dari masalah, sampai-sampai tidak mau peduli lagi pada keluarga sendiri.
2. Hubungan yang “tepat” antara ibu dan anak laki-laki
Sepanjang tahap awal kehidupan anak laki-laki, ibu harus mendapatkan dukungan fisik, materi, sosial dan emosional dari pasangan hidupnya, sahabat dan keluarga. Dukungan ini diperlukan untuk pembentukan hubungan yang positif dengan anak laki-lakinya. Dengan dukungan itu, seorang ibu akan mampu menjalin ikatan dan kedekatan dengan anak laki-lakinya sehingga anak tumbuh dengan perasaan layak dicintai. Jika tiba waktunya anak harus berpisah dari sang ibu untuk membangun jati dirinya, maka dia sudah memiliki landasan yang kokoh.
Tanpa adanya dukungan dari orang terdekatnya, ibu cenderung menjadikan anak laki-laki sebagai objek pelampiasan psikologis. Jiwa yang haus tentu tidak akan mampu menyirami hati yang sedang butuh kesejukkan, bukan? Dukungan keluarga yang dimiliki oleh ibu akan membuat anak laki-laki belajar menghargai perempuan.
Saat memasuki usia remaja, seorang anak laki-laki sudah siap berpisah secara psikologis dari ibunya. Ia akan berpindah dari ketergantungan kepada ibu pada tahun-tahun awalnya menju kemandirianemosional selama remaja dan kedewasaan awal untuk kemudian bergerak menuju fase saling tergantung dengan pasangan saat berkeluarga. Jika seorang anak laki-laki tidak berpisah secara psikologis dari ibunya, ia akan sulit menjadi mandiri sehingga akan bermasalah saat membina hubungan dengan pasangannya setelah menikah.
3. Figur Ayah
Seorang ayah yang baik:
·         Harus punya kesadaran untuk menjadi seorang ayah.
·         Harus memiliki jati diri karena bagaimana mungkin seorang ayah bisa membesarkan anak laki-lakinya jika ia adalah ayah yang tidak memiliki jati diri, tertutup dan tidak matang?
·         Harus belajar cara berkomunikasi dengan anak laki-laki yang ia besarkan.
·         Mau mempelajari keahlian-keahlian baru untuk mengikuti pertumbuhan dan perkembangan anak laki-lakinya.
·         Harus tahu kapan saatnya melepaskan anaknya seraya tetap menjadi teladan/panutan.
Kembali kepada kasus Liana pada awal tulisan ini. Anak laki-laki tertuanya saat ini duduk di kelas satu Sekolah Menengah Atas untuk kedua kalinya karena tidak naik kelas di tahun sebelumnya. Walaupun sudah mengulang, tetap saja nilainya tidak baik sehingga ada kemungkinan harus keluar dari sekolah tersebut. Ayah yang lemah dan tidak mampu berperan layaknya seorang ayah walaupun secara fisik hadir di tengah-tengah keluarga telah membuat tugas Liana sebagai seorang Ibu menjadi semakin sulit dan berat.
Terakhir, ada satu hal penting lagi yang saya tanyakan pada Liana. Apakah anaknya suka main game? Ketika jawabannya iya maka semakin lengkapkah keterpurukan yang mungkin terbayangkan dalam benak ini. Apa yang akan terjadi dengan masa depan anak yang tidak bisa bertanggung jawab pada dirinya sendiri? Ketika tidak ada kesadaran diri mungkinkah terbentuk kontrol diri? Saat kontrol diri tidak ada, apakah jika dewasa nanti akan mampu jadi kepala keluarga yang siap membimbing anak-anaknya?
Terus terang, anak laki-laki yang tidak dibesarkan dengan baik bukan hanya menciptakan beban tambahan bagi keluarganya tapi juga akan memperberat masalah sosial yang terjadi dalam masyarakat. Kekerasan dalam rumah tangga akan semakin banyak terjadi dan tingkat kriminalitas pasti akan terus meningkat. Sehingga, jika kita ingin menghindari masalah yang lebih runyam untuk masa yang akan datang, mulai saat ini perhatikan dan berikanlah yang terbaik bagi anak laki-laki kita di rumah. Agar kelak mereka siap menjadi laki-laki dewasa sejati.
http://sangkudaapi.wordpress.com/

kenapa suami berselingkuh?

Bicara mengenai ‘selingkuh’, pasti banyak orang yang tertarik dan ingin mengetahui lebih jauh. Termasuk saya salah satunya. Kenapa? Karena rasa penasaran yang timbul… Kog bisa ya orang-orang mau berselingkuh, dan faktor apa yang mendorong mereka berbuat demikian? Padahal kita semua yakin, bahkan sangat yakin, di saat mulai hidup bersama setelah mengucapkan janji setia, mana ada sih yang punya pikiran bahwa saya menikah untuk selingkuh. Betul ‘kan?

Namun seiring berjalannya waktu, banyak suami yang mulai berpaling dari pasangannya. Sikap terhadap istri pun menjadi dingin dan hati pun telah menjauh. Diantara mereka – walaupun ada yang sama sekali tidak mau atau tidak berniat untuk berselingkuh – akhirnya merasakan bahwa hidup bersama sebagai suami istri sudah menjadi hambar. Dan hidup berumah tangga bagaikan terpenjara. Suami memilih untuk lebih banyak diam demi menghindari konflik. Atau, di saat terpaksa berkomunikasi dengan pasangan, nada bicara mereka kurang bersahabat dan kata-kata yang keluar pun sering meremehkan atau merendahkan pasangannya.

Ketika suami-suami dihadapkan pada pertanyaan mengapa mereka menyeleweng, kebanyakan menjawab bahwa ketidakpuasan emosional adalah alasan utama, bukannya masalah sex. Kenyataannya, kaum laki-laki juga ingin merasa dirinya berharga, diperhatikan dan punya ikatan batin dengan istri mereka. Tapi, seserhana itukah?

Tentu saja tidak. Karena, banyak istri yang tidak tahu atau bahkan tidak mengerti kebutuhan batiniah suaminya. Misalnya, ketika suami telah dengan susah payah banting tulang mencari nafkah dan mau meluangkan waktu luangnya untuk bermain dan mengurusi anak-anak, apakah sebagai istri kita pernah menghargai jerih payah mereka? Atau kita menganggap memang sudah sepantasnya mereka berbuat demikian dan suami tidak perlu kredit untuk itu? Kenyataannya, suami juga butuh penghargaan. Dan biasanya, sebuah ‘ucapan terima kasih’ yang sederhana akan membuat mereka merasa dihargai sehingga akan lebih bersemangat lagi menjalankan perannya di dalam rumah.

Sampai saat ini, entah sudah berapa buku tentang selingkuh yang telah saya baca. Sehingga mungkin Anda akan heran, untuk apa sih saya membaca buku-buku tersebut? Tentu saja banyak gunanya. Pertama-tama, demi hubungan yang lebih harmonis dengan suami. Kedua, karena dunia coaching yang aku tekuni. Dan, yang terakhir; sebagai orangtua, kita harus menyadari bahwa keharmonisan rumah tangga akan berdampak pada kestabilan mental dan rasa aman yang dimiliki oleh anak-anak kelak. Jadi, menguasai ilmu parenting saja tanpa memahami dan mampu membangun hubungan yang positif dengan pasangan, tentu tidak akan pernah cukup.

Dalam bukunya ‘The Truth about Cheating’, Gary Neuman – seorang konselor dan rabi – ingin membantu para istri agar tahu apa yang dapat dilakukan untuk menciptakan kehidupan pernikahan yang solid dan bebas dari perselingkuhan. Saya menyarankan Anda untuk membacanya jika ingin mengetahui lebih detail.

Menurut Gary, tanda-tanda jika suami mungkin saja telah selingkuh atau hatinya telah berpaling dari Anda adalah:
1.    Mereka lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah.
2.    Kegiatan sex yang semakin berkurang atau jarang
3.    Mereka mulai enggan berbicara atau menolak saat diajak berdiskusi
4.    Mereka mulai sering mengkritik
5.    Mereka memulai lebih banyak pertengkaran dengan Anda
Memang, setelah menikah, suami mungkin saja telah berubah dibandingkan dengan saat masih pacaran. Banyak istri yang merasa kalau telah ‘dicurangi’ karena ketika pacaran dulu, suami begitu perhatian. Kini, setelah hidup dalam sebuah ikatan pernikahan, semunya sudah tidak sama lagi. Mereka menjadi cuek dan seolah-olah sudah tidak mau tahu perasaan istrinya lagi.
Sebenarnya, menaklukkan hati suami jauh lebih mudah daripada meminta mereka untuk mengerti isi hati istrinya. Kunci utama adalah buatlah diri mereka merasa berharga. Dan, ini dapat diawali dengan hal-hal yang sederhana. Misalnya, tidak usah mengeluh untuk masalah-masalah sepele. Bahkan untuk masalah besar pun, jika bisa bicara dengan kepala dingin, tentu akan lebih positif sehingga mudah mendapatkan solusi.
Di samping itu, untuk memudahkan tugas kita sebagai istri, cobalah pahami apa yang ada di balik pikiran kaum lelaki.
1. Kemenangan itu adalah mutlak.
Bagi laki-laki, menang adalah segala-galanya. Itulah sebabnya ketika petenis nomor wahid dunia, Roger Federer kalah tragis dari rival utamanya, Rafael Nadal di final ‘Australia Open’ tahun lalu, dia sampai mengeluarkan air mata. Juga Andy Murray, saat kalah mudah dari Roger pada final ‘Australia Open’ minggu lalu, dia pun harus menahan tangis saat memberikan kata sambutan. Ini hanya contoh saja.
Kalau di rumah, cobalah menangkan hati suami kita dengan pujian atau penghargaan yang pantas mereka terima. Jangan sampai jika tidak mampu ‘menang’ di rumah, mereka mulai mencari kemenangan di luar rumah atau jatuh ke dalam pelukan perempuan lain yang bisa mengambil hati mereka. Jadi, supaya suami betah di dekat kita, buatlah diri mereka merasakan bahwa dengan kekurangan yang dimiliki, istrinya mampu melihat kelebihannya dan mencintai mereka apa adanya.
2. Kaum lelaki pandai memilah-milah pikiran.
Lelaki selalu menggolongkan mana masalah penting yang harus segera ditangani dan mana masalah yang ringan yang bisa ditunda penyelesaiannya. Jadi, mereka sering heran mengapa kaum perempuan lebih emosional dan selalu mengganggu mereka dengan masalah-masalah sepele. Apalagi saat mereka sedang sibuk dan tak ingin diganggu. Sebagai istri, marilah kita cari penyaluran emosi yang lebih positif. Sebagai contoh: bagi saya, membaca dan menulis adalah kegiatan positif sehingga bisa membuat emosi lebih terkontrol.
3. Kaum lelaki tidak suka hal-hal yang jelimet dan rumit.
Laki-laki suka memberikan jawaban atau solusi dan kemudian melangkah ke depan. Untuk itu, saat berbicara dengan mereka, jelaskan apa yang kita inginkan. Jangan beranggapan bahwa suami akan tahu dengan sendirinya atau harus mengerti apa yang kita inginkan. Ingat, mereka tidak mampu membaca apa yang tersirat dalam perkataan kita setiap saat. Saya telah membuktikan bahwa jika kita mampu mengkomunikasikan pikiran dengan jelas dan memahami pola pikir suami, maka satu per satu ganjalan batin akan hilang dengan sendirinya.
Akhir kata, menciptakan hubungan yang harmonis dengan pasangan kita haruslah dijadikan prioritas utama. Karena, pasti tidak enak hidup seatap dengan orang yang tidak hangat dan tidak punya semangat membina hubungan yang positif, bukan? Jadi, mulai saat ini, fokuskan pikiran dan perhatian Anda untuk menciptakan kehidupan perkawinan yang berpegang pada prinsip “Kehidupan perkawinan kita adalah prioritas. Sehingga apa pun akan kita lakukan untuk saling mencintai, bebas dari selingkuh, dan menyenangkan.”

http://sangkudaapi.wordpress.com/

Unik: Trik Simple Mengindari Pertengkaran Rumah Tangga


Mengalami perselisihan dalam rumah tangga adalah hal biasa. Perselisihan yang terjadi bisa diibaratkan sebagai ‘bumbu’ dalam rumah tangga, jadi Anda tidak perlu risau akan hal itu. Pasang surut sebuah hubungan pasti akan terjadi dan pernah menimpa siapa saja, jadi hal itu wajar adanya.
Setiap pasangan, baik pria maupun wanita tidak ada yang menginginkan rumah tangganya ‘kacau’ karena sering berselisih paham. Jika Anda percaya kekuatan cinta Anda tidak akan pupus karena perselisihan yang masih bisa ditanggulangi dengan komunikasi, sepertinya hal itu akan berjalan baik-baik saja.
Potensi perselisihan kecil bisa merambat menjadi besar dan akhirnya mengancam Anda dan pasangan. Untuk menimimalis hal-hal yang menjadi ketakutan Anda dan pasangan, Anda perlu menyingkapi masalahnya satu per satu untuk mendapatkan titik temu yang baik untuk kedua belah pihak.. Berikut ini ada beberapa trik khusus untuk meminimalis masalah yang tengah menyerebak supaya keadaan berubah menjadi harmonis:

Bicara disaat yang tepat
Berselisih pada saat Anda atau pasangan sedang ‘panas’, tidak akan menyelesaikan masalah, bahkan akan semakin rumit karena kedua belah pihak diliputi emosi tinggi. Jadi ada baiknya Anda memilih waktu yang tepat, pada saat santai Anda bisa mengutarakan ketidaksukaan Anda pada pasangan. Atau memulainya dengan percakapan ringan dan sopan.

Melihat masalah dari dua sisi
Jangan pernah mementingkan ego pribadi. Menumpahkan kemarahan tidak sepenuhnya harus mengandalkan ego pribadi yang akhirnya dapat memperkeruh masalah. Melihat masalah harus dari sudut yang berbeda, tanyakan apa yang pasangan suka dan tidak suka dari perselisihan yang terjadi, begitu juga sebaliknya. Dari situ  niscaya permasalahan Anda akan teratasi dengan saling menghargai.

Tenangkan diri
Pada saat perselisahan makin memanas, tanangkan diri Anda. Biarkan pasangan Anda meluapkan kekesalannya, jangan langsung menimpalinya dengan emosi Anda, karena hal itu tidak akan menghasilkan penyelesaian. Setelah kekesalan pasangan sudah terluapkan dan dia sudah lebih baik, barulah Anda memulai pembicaraan, selesaikan dari hati ke hati dan kepala dingin. Sikap tenang akan membuat Anda dan pasangan saling memahami.

 Tunjukan empati Anda
Dalam menghadapi masalah, acap kali perselisahan sulit dituntaskan karena ego masing-masing. Ada dua cara untuk menghindari perdebatan hebat itu, yaitu mengaku salah atau mengalah dan menunjukan rasa empati Anda. Turunkan ketegangan Anda, kurangi volume Anda ketika pertengkaran sudah mulai panas, percayalah cara ini efektif untuk menyelesaikan masalah. 
Hindari kata ‘Terserah’
Kata ‘terserah’ kadang suka jadi kata pamungkas untuk menggertak pasangan. Misalnya ‘Terserah kamu, aku sudah tidak perduli, atau terserah kamu mau percaya aku atau orang lain’. ‘Terserah’ bukanlah  penyelesaian yang bisa mengembalikan kondisi harmonis dalam keluarga, justu akan menimbulkan masalah baru.
Perselisihan jangan dibiarkan berlama-lama dalam rumah Anda, setelah berdamai dengan pasangan buatlah suasana nyaman. Saling memberi kecupan hangat dan bercanda akan memecahkan ketegangan yang ada. Yang terpenting saling memaafkan dan menghormati satu dengan yang lainnya.

Suami Istri, Bagaimana Anda Bertengkar?
Rasanya tidak ada pernikahan yang tidak pernah sesekali diramaikan oleh pertengkaran suami istri. Bahkan pasangan yang paling rukun dan saling cinta sekalipun pasti pernah bertengkar karena satu dan lain hal. Pertengkaran rumah tangga sendiri bukanlah suatu yang perlu ditakuti, seakan-akan bisa menghancurkan rumah tangga. Bisakah anda bayangkan sepasang suami istri yang terus menerus rasional menganalisis [...]
Rasanya tidak ada pernikahan yang tidak pernah sesekali diramaikan oleh pertengkaran suami istri. Bahkan pasangan yang paling rukun dan saling cinta sekalipun pasti pernah bertengkar karena satu dan lain hal.
Pertengkaran rumah tangga sendiri bukanlah suatu yang perlu ditakuti, seakan-akan bisa menghancurkan rumah tangga. Bisakah anda bayangkan sepasang suami istri yang terus menerus rasional menganalisis berbagai masalah secara matang dan dewasa tanpa emosi? Pasti akan sangat melelahkan.
Pernikahan memberi kesempatan pada dua manusia untuk saling merasakan cinta yang mendalam, tetapi juga dapat membangkitkan amarah dan benci yang paling intens. Pernikahan melibatkan perasaan saling bergantung dan saling membutuhkan. Siapapun yang merasa kehilangan antara sifat bergantung dan saling membutuhkan, tentu akan muncul sifat geram, yang kemudian akan timbul pertengkaran.
Sebenarnya pertengkaran adalah sesuatu yang wajar dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam sebuah ikatan batin yang penuh makna di kedua belah pihak. Mungkin anda sudah mengatahui hal ini, tetapi tahukah anda bahwa terdapat berbagai macam cara bertengakar, ada yang fair dan juga tidak. Berikut adalah contohnya, mungkin anda masuk didalamnya dan cobalah mengenali diri anda.
Menusuk di tempat yang sensitif
Semua orang memiliki sisi lemah dalam dirinya dan bertengkat dengan menusuk seperti ini tidaklah fair. Contoh. “Terang saja kamu nggak mau pindah dinas ke daerah karena itu artinya kamu akan bertemu lagi dengan bambang yang dulu merebut bekas pacar kamu!”
Ahli sejarah
Dalam pertengkaran ini, semua masa lalu yang tidak berhubungan dengan masalah pertengkaran muncul kepermukaan. Misalnya, “Saya tahu kamu nggak suka dengan ibu saya. Makanya waktu ibu berkunjung lebaran tahun lalu, kamu tidak sopan sama sekali!” “Oh ya, tapi ibumu yang sering menyakiti saya waktu kita tinggal bersama-sama. Waktu kiki baru lahir, ibumulah yang mencela saya tak becus ngurusi bayi!!”
Tukang sampah
Dalam pertengkaran ini, suami istri menumpahkan semua hal ke dalam pertengkaran. Misalnya., “Coba lihat tagihan rekening bulan ini! Boros betul, sih.” “Alaa, kalau gajimu cukup, kita nggak akan bisa terlibat hutang seperti ini. Kamu sih, laki-laki nggak punya ambisi sama sekali.” “Jangan sok ngurusi pekerjaan laki-laki, kamu persis ibumu…nuntut ini dan itu” “Ibuku? Tahu nggak, justru ibumu yang selalu mau campur tangan urusan rumah tangga kita!!”
Tabrak lari
Dalam pertengkarang seperti ini, suami atau istri berusaha memberikan pukulan terakhir sebelum melarikan diri. Pendeknya, berusaha memutuskan komunikasi lebih lanjut. Misalnya, “kalau begitu, saya tidak peduli lagi!! Saya akan pergi saja dari rimah ini!”
Monolog
Mungkin anda juga pernah melihat pertengkaran seperti ini. Salah satu pihak terus menerus membombardir pasangannya tanpa memberikan kesempatan untuk bicara. Jika anda seperti itu, maka artinya anda sedang bermonolog.
Si pasif yang agresif
Suami istri kelihatan pasif, berdiam diri tanpa membalas, tetapi sebenarnya agresif. Lebih jelasnya, sikap berdiam diri tanpa membalas, tetapi menyimpan amarah, benci, dendam, atau bahkan caci maki dalam hati. Berdiam bisa berarti, diam saja, lupa terus menerus, melakukan sesuatu yang tidak disukai pasangan terus menerus, menjauh dari rumah, itulah bentuk pertengkaran pasif agresif
Ahli analisis
Ini termasuk trend baru dalam pertengkaran. Suami atau istri  berusaha menjelaskan sifat pasangannya dengan berbagai analisis. Contohnya, “Alaa, terang saja kamu merasa nggak betah di RT sini, soalnya kamu kan minder dan segan bergaul dengan orang-orang disini!”
Suami Istri, Bagaimana Anda Bertengkar? Bag.2
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa pernikahan memberi kesempatan pada dua manusia untuk saling merasakan cinta yang mendalam, tetapi juga dapat membangkitkan amarah dan benci yang paling intens. Pernikahan melibatkan perasaan saling bergantung dan saling membutuhkan. Siapapun yang merasa kehilangan antara sifat bergantung dan saling membutuhkan, tentu akan muncul sifat geram, yang kemudian akan timbul [...]
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa pernikahan memberi kesempatan pada dua manusia untuk saling merasakan cinta yang mendalam, tetapi juga dapat membangkitkan amarah dan benci yang paling intens. Pernikahan melibatkan perasaan saling bergantung dan saling membutuhkan. Siapapun yang merasa kehilangan antara sifat bergantung dan saling membutuhkan, tentu akan muncul sifat geram, yang kemudian akan timbul pertengkaran.
Pada artikel sebelumnya telah disebutkan tujuh tipe pertengkaran antara suami istri dalam kehidupan rumah tangga, berikut adalah lanjutan beberapa tipe tersebut dan cara menghindari pertengkaran yang tidak fair atau menyakitkan bagi kedua belah pihak.
Menggeneralisasi
Dalam pertengkaran ini, suami atau istri melemparkan kesalahan begitu luas sehingga tidak bisa dibuktikan. “Pokoknya, dimata kamu, aku selalu salah. Tidak ada satu pun yang aku bisa lakukan untuk menyenangkan kamu!”
Pertanyaan yang menjatuhkan
Dalam pertengkaran seperti ini, salah satu pihak melemparkan pertanyaan yang dapat menjatuhkan pasangannya. Misalnya, “Kenapa sih kamu nggak bisa hemat sedikit?” atau “Kenapa sih, kamu nggak bisa lebih jantan dan tegas menghadapi orang lain?” Si penanya sama sekali tidak ingin tahu apa jawaban pasangannya.
Mengancam
Mungkin anda sudah tahu model pertengkaran dengan bentuk ancaman. Pesan yang ada disini adalah: Untuk jangka pendek, ancaman-ancaman seperti ini mungkin akan berhasil. Tetapi untuk memelihara kelanggenan pernikahan anda, ancaman seperti ini sama sekali tidak ada gunanya.
Bercanda
Mungkin pernah anda saksikan suami yang berusaha mengubah suatu protes istrinya menjadi olok-olok. Sesudah teriakan dan air mata si istri, si suami tertawa lalu berkata, “Sudah deh, besok kan hari gajian.” Pertengkaran seperti ini sering menunjukkan bahwa salah satu pihak menganggap pasangannya tidak perlu terlalu dianggap serius.
Menggunakan perantara
Mungkin anda pernah melakukan hal yang sama, yakni menyatakan ketidakpuasan anda melalui pihak ketiga, “Aduh, maaf kami telat, Bu Jono. Maklum, suami saya malas sekali.” Atau “Bagaimana tidak terlambat Bu Jono, soalnya Elida kalau dandan…lama sekali.”
Mengubah pembicaraan
Anda mengubah topik pembicaraan, meskipun pasangan anda sudah memberi tanda bahwa ingin membicarakan sesuatu. “Saya sedang cemas dengan rapor si Andi.” “Aku juga. Oh ya, omong-omong, tadi saya ketemu Mariam dan dia bilang suaminya….”
Tak mengacuhkan
Contohnya seperti, “Saya nggak tahan kalau kamu terus-terusan meributkan soal saya meletakkan sepatu bukan pada tempatnya. Hari ini saya capek sekali di kantor dan kamu ribut soal sepatu…”
Menumpahkan amarah
Suami atau istri, misalnya, melempar atau merusak barang karena marah. Dengan kata lain, menyatakan amarah dengan tingkah laku dan bukan dengan kata-kata.
Pertengkaran fisik
Suami atau istri menggunakan kekuatan fisik untuk menyakiti pasangannya.Ini adalah salah satu bentuk pertengkaran yang paling tidak fair. Jika anda mengalami hal ini, minta pertolongan pada ahli sesegera mungkin.
Begitu banyak cara bertengkar yang dianggap tidak jujur dan tidak fair. Bagaimana bisa menghindarinya? Ada dua hal yang perlu anda ingat untuk itu. Yang pertama adalah bahwa anda bertengkar bukan untuk sekadar bertengkar atau mencari kalah menang, tetapi mencari jalan keluar yang paling baik bagi kedua belah pihak,
Yang kedua adalah menyadari, setiap orang memiliki ambang kelemahan (psychological belt-line). Usahakan agar anda bisa tetap respek pada pasangan dan jangan menyerang ambang kelemahannya, karena itu tindakan menyakiti yang paling tidak bijaksana.
Dengan mengingat dua pegangan sederhana itu, rasanya anda akan bisa menegoisasikan berbagai konflik dalam hubungan berumah tangga. Anda akan bisa bertengkar tanpa mengancam keharmonisan rumah tangga anda.