Sabtu, 17 November 2012

karakteristik cara belajar

Karakteristik Cara Belajar

Nah mungkin teman-temab ada yang kesulitan dalam belajar, sebenernya belajarpun ada karakteristiknya…

Karateristik cara beLajar

Berdasarkan kemampuan yang dimiliki otak dalam menyerap, mengelola dan menyampaikan informasi, maka cara belajar individu dapat dibagi dalam 3 (tiga) kategori. Ketiga kategori tersebut adalah cara belajar visual, auditorial dan kinestetik yang ditandai dengan ciri-ciri perilaku tertentu. Pengkategorian ini tidak berarti bahwa individu hanya yang memiliki salah satu karakteristik cara belajar tertentu sehingga tidak memiliki karakteristik cara belajar yang lain. Pengkategorian ini hanya merupakan pedoman bahwa individu memiliki salah satu karakteristik yang paling menonjol sehingga jika ia mendapatkan rangsangan yang sesuai dalam belajar maka akan memudahkannya untuk menyerap pelajaran. Dengan kata lain jika sang individu menemukan metode belajar yang sesuai dengan karakteristik cara belajar dirinya maka akan cepat ia menjadi "pintar" sehingga kursus-kursus atau pun les private secara intensif mungkin tidak diperlukan lagi.

Adapun ciri-ciri perilaku individu dengan karakteristik cara belajar seperti disebutkan diatas, menurut DePorter & Hernacki (2001), adalah sebagai berikut:

1. Karakteristik Perilaku Individu dengan Cara Belajar Visual

Individu yang memiliki kemampuan belajar visual yang baik ditandai dengan ciri-ciri perilaku sebagai berikut:

· rapi dan teratur

· berbicara dengan cepat

· mampu membuat rencana jangka pendek dengan baik

· teliti dan rinci mementingkan penampilan

· lebih mudah mengingat apa yang dilihat daripada apa yang didengar

· mengingat sesuatu berdasarkan asosiasi visual

· memiliki kemampuan mengeja huruf dengan sangat baik

· biasanya tidak mudah terganggu oleh keributan atau suara berisik ketika sedang belajar

· sulit menerima instruksi verbal (oleh karena itu seringkali ia minta instruksi secara tertulis)

· merupakan pembaca yang cepat dan tekun

· lebih suka membaca daripada dibacakan

· dalam memberikan respon terhadap segala sesuatu, ia selalu bersikap waspada, membutuhkan penjelasan menyeluruh tentang tujuan dan berbagai hal lain yang berkaitan.

· jika sedang berbicara di telpon ia suka membuat coretan-coretan tanpa arti selama berbicara

· lupa menyampaikan pesan verbal kepada orang lain

· sering menjawab pertanyaan dengan jawaban singkat "ya" atau "tidak'

· lebih suka mendemonstrasikan sesuatu daripada berpidato/berceramah

· lebih tertarik pada bidang seni (lukis, pahat, gambar) daripada musik

· seringkali tahu apa yang harus dikatakan, tetapi tidak pandai menuliskan dalam kata-kata

2. Karakteristik Perilaku Individu dengan Cara Belajar Auditorial

Individu yang memiliki kemampuan belajar auditorial yang baik ditandai dengan ciri-ciri perilaku sebagai berikut:

· sering berbicara sendiri ketika sedang bekerja

· mudah terganggu oleh keributan atau suara berisik

· lebih senang mendengarkan (dibacakan) daripada membaca

· jika membaca maka lebih senang membaca dengan suara keras

· dapat mengulangi atau menirukan nada, irama dan warna suara

· mengalami kesulitan untuk menuliskan sesuatu, tetapi sangat pandai dalam bercerita

· berbicara dalam irama yang terpola dengan baik

· berbicara dengan sangat fasih

· lebih menyukai seni musik dibandingkan seni yang lainnya

· belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusikan daripada apa yang dilihat

· senang berbicara, berdiskusi dan menjelaskan sesuatu secara panjang lebar

· mengalami kesulitan jika harus dihadapkan pada tugas-tugas yang berhubungan dengan visualisasi

· lebih pandai mengeja atau mengucapkan kata-kata dengan keras daripada menuliskannya

· lebih suka humor atau gurauan lisan daripada membaca buku humor/komik

3. Karakteristik Perilaku Individu dengan Cara Belajar Kinestetik

Individu yang memiliki kemampuan belajar kinestetik yang baik ditandai dengan ciri-ciri perilaku sebagai berikut:

· berbicara dengan perlahan

· menanggapi perhatian fisik

· menyentuh orang lain untuk mendapatkan perhatian mereka

· berdiri dekat ketika sedang berbicara dengan orang lain

· banyak gerak fisik

· memiliki perkembangan otot yang baik

· belajar melalui praktek langsung atau manipulasi

· menghafalkan sesuatu dengan cara berjalan atau melihat langsung

· menggunakan jari untuk menunjuk kata yang dibaca ketika sedang membaca

· banyak menggunakan bahasa tubuh (non verbal)

· tidak dapat duduk diam di suatu tempat untuk waktu yang lama

· sulit membaca peta kecuali ia memang pernah ke tempat tersebut

· menggunakan kata-kata yang mengandung aksi

· pada umumnya tulisannya jelek menyukai kegiatan atau permainan yang menyibukkan (secara fisik)

· ingin melakukan segala sesuatu

Dengan mempertimbangkan dan melihat cara belajar apa yang paling menonjol dari diri seseorang maka orangtua atau individu yang bersangkutan (yang sudah memiliki pemahaman yang cukup tentang karakter cara belajar dirinya) diharapkan dapat bertindak secara arif dan bijaksana dalam memilih metode belajar yang sesuai. Bagi para remaja yang mengalami kesulitan belajar, cobalah untuk mulai merenungkan dan mengingat-ingat kembali apa karakteristik belajar anda yang paling efektif. Setelah itu cobalah untuk membuat rencana atau persiapan yang merupakan kiat belajar anda sehingga dapat mendukung agar kemampuan tersebut dapat terus dikembangkan. Salah satu cara yang bisa digunakan adalah dengan memanfaat berbagai media pendidikan seperti tape recorder, video, gambar, dll.

 

jangan serakah, jangan kuatir

Jangan Serakah, Jangan Kuatir

 (Oleh: Pdt. Dr. Stephen Tong)
Artikel ini diambil dari seri khotbah Ekspositori Surat Ibrani di Kebaktian
Minggu GRII Pusat, Kampus Emas, Jakarta, pada tanggal 20 Juli 2003

Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan yang ada
padamu. Karena Allah telah berfirman "Aku sekali-sekali tidak akan
membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau"
(Ibrani 13:5)

Di ayat 5 ini penulis Ibrani berbicara tentang dosa keuangan. Mengapa seks
dan uang (harta) selalu berdampingan? Karena keduanya adalah jerat yang
paling besar atau paling berbahaya bagi setiap orang yang hidup di dunia
ini. Banyak orang gagal, kalau bukan karena seks, tentu karena uang. Itu
sebabnya, seks dan uang juga merupakan musuh terbesar bagi para pelayan
Tuhan, saksi-saksi Tuhan yang diutus untuk memancarkan kemuliaan-Nya. Jika
kita tidak memelihara kesaksian hidup kita dengan hati-hati, kita memberi
lowongan kepada iblis untuk mencobai kita dalam seks dan harta, maka kita
akan kehilangan kuasa, pengaruh, dan kemuliaan Tuhan untuk menjadi saksi-Nya
di dunia. Oleh karena itu, setelah penulis Ibrani menyelesaikan pembahasan
tentang 'hormatilah pernikahan', ia meneruskannya dengan: Jangan engkau
menjadi budak hartamu, uangmu; atau dalam terjemahan lain: Jangan tamak,
jangan menginginkan uang yang bukan milikmu.

Saya percaya, saat Yohanes Pembaptis yang dipenuhi oleh Roh Kudus itu tampil
di depan umum, usianya kira-kira tiga puluh tahun, karena seorang imam baru
boleh melayani di saat usianya genap tiga puluh tahun, karena seorang imam
baru boleh melayani di saat usianya genap tiga puluh tahun. Di mata manusia,
ia adalah seorang pemuda yang kurang berpengalaman. Ia berseru, "Bertobatlah
kamu sebab Kerajaan Sorga sudah dekat." Ia menuntut mereka agar hidup baru,
hidup bertobat, hidup suci, mau meninggalkan hidup moral yang bobrok dan
segala dosa yang tidak berkenan di hadapan Tuhan. Setiap orang hidup perlu
tahu: Dunia bukanlah rumahnya; ketika ia mulai terbiasa, bahkan betah hidup
di dunia, maka dunia akan berkata kepadanya, "Get out!" – tidak ada tempat
lagi untukmu, tempat ini akan diberikan pada generasi baru. Jadi, tak
seorang pun bisa hidup sampai selama-lamanya di dunia ini.

Tetapi Allah sudah menyediakan Kerajaan Sorga, Kerajaan Allah bagi kita –
orang-orang yang berharap kepada-Nya. Dan firman-Nya: Bertobatlah,
tinggalkanlah dosamu, siapkanlah hatimu untuk hidup di dalam Kerajaan Allah,
karena Kerajaan Allah sudah dekat. Kalimat pertama dalam khotbah Yohanes
Pembaptis itu juga merupakan kalimat pertama dalam khotbah Yesus Kristus.
Tokoh terpenting di Perjanjian Baru — Yohanes Pembaptis, Sang Perintis dan
Yesus yang adalah Tuhan, mengucapkan kalimat yang sama: Bertobatlah kamu,
karena Kerajaan Allah sudah dekat. Yohanes Pembaptis berjumpa dengan
pelbagai macam orang. Ada semacam orang yang bertanya padanya: Apa yang
harus kami perbuat? Saya kira itulah tanya jawab yang pertama di dalam
pelayanan Perjanjian Baru. Dan saya yakin acara tanya-jawab perlu
dilestarikan, karena di lembar-lembar pertama Perjanjian Baru, dalam
pelayanan Tuhan sendiri juga diadakan tanya jawab. Ketika saya masih berumur
tujuh belas tahun, pikiran saya sudah dilanda oleh ajaran: Komunisme,
Atheisme, Materialisme, Dialektis, Evolusionisme. Saya menganggap diri
sebagai pemuda yang paling modern, terkemuka, bahkan lebih cerdas dari
pemuda-pemudi lainnya. Pelajaran yang biasanya perlu dipelajari orang dalam
waktu dua bulan bisa saya selesaikan dalam waktu dua hari, bahkan selagi
masih di SMA, saya sudah mengajar, dan saya mampu menyelesaikan SMA dengan
mudah, sekaligus menjadi seorang guru yang disambut baik oleh murid-murid.
Honor saya dua kali lebih besar daripada honor pendeta terbesar, yang
melayani di gereja terbesar di Surabaya. Saat itu, saya merasa tidak butuh
Alkitab, tidak butuh Tuhan, bahkan merasa tak perlu menjadi orang Kristen,
karena dunia sudah maju dan kekristenan sudah ketinggalan. Akan tetapi
melalui Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR), Tuhan bekerja di dalam hati saya,
saya menangis tak henti-hentinya, bertobat, meminta Tuhan mengampuni
dosa-dosa saya. Di hari ketiga KKR itu, saya menyerahkan diri menjadi hamba
Tuhan. Saya berkata, "Tuhan, jawablah semua pertanyaanku, sesudah itu, saya
akan pergi ke seluruh dunia untuk menjawab pertanyaan siapa pun." Itu
sebabnya, ciri khas dari pelayanan saya adalah tanya-jawab, menjawab
pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan. Seperti apa yang dikatakan oleh
Francis Schaeffer: The responsibility of Christianity is to give the honest
answers for the honest questions. Itulah yang saya pelajari dari Yohanes
Pembaptis, menjawab pertanyaan siapa saja yang ingin tahu tentang kebenaran.
Yohanes Pembaptis menjawab pertanyaan, termasuk pertanyaan para tentara.
Biasanya seorang tentara, karena mempunyai senjata, selalu merasa dirinya
memiliki hak istimewa, suka melakukan kekerasan, tetapi saat ia datang
bertanya: What should I do, John? Jawab Yohanes Pembaptis, "Kamu harus
merasa puas dengan apa yang ada padamu, jangan menindas orang dengan
senjatamu." Saya kaget sekali, ternyata seorang yang dipenuhi Roh Kudus bisa
menjawab pertanyaan dengan begitu singkat dan begitu tepat, sesuai dengan
kebutuhan. Ia tidak menjawab, "Hai Tentara, jangan kamu berperang, karena
firman Tuhan berkata: Barangsiapa membunuh, ia juga akan dibunuh." Ia tidak
berbicara tentang apakah tentara harus membela atau memberontak, boleh
berperang atau tidak, ia hanya memberikan dua prinsip:

Puaskan diri dengan apa yang kau miliki, dan jangan menindas orang dengan
senjatamu. Dua prinsip yang berkaitan dengan dua dosa besar dari para
tentara yang menyandang senjata. Yang pertama, mereka menembak dengan
sewenang-wenang, karena pikir mereka: Kami memiliki hak menggunakan senjata,
mempunyai situasi dan kondisi dimana orang tidak mudah membalas dendam. Kami
bisa merebut nyawa orang. Seseorang yang memiliki kuasa, uang, kekuatan,
pangkat, senjata, lalu merugikan orang dengan sewenang-wenang, kelakukannya
sungguh jahat. Negara yang tidak memelihara kaum minoritas adalah negara
barbar. Negara yang tidak memberi proteksi pada kaum minoritas yang tidak
bersenjata dan tidak berdaya untuk melawan adalah negara yang tidak beradab.

Orang yang menindas si lemah, rakyat jelata dengan senjata, dengan
kekerasan, jiwanya bagaikan binatang liar, bukan manusia. Karena senjata
hanya dipakai untuk membela negara, mengamankan rakyat, itulah perintah
Alkitab: Pemerintah menyandang pedang adalah hak, kuasa yang Allah berikan
untuk menghakimi mereka yang berbuat salah; membela mereka yang benar,
menjaga ketertiban negara (Roma 13). Bila senjata digunakan semena-mena
untuk melampiaskan kebencian pribadi — memusnahkan, menghancurkan, membunuh
musuh yang dibencinya, itu adalah tindakan barbar. Yohanes Pembaptis
berkata, 'Hai, Para Tentara.' Yang dimaksud olehnya bukanlah tentara Israel
melainkan tentara Romawi yang ditugaskan oleh kerajaan Roma di seluruh
wilayah kerajaan Romawi, meliputi sebagian benua Eropa, Asia, Afrika Utara
bahkan sampai ke Inggris. Adapun kita yang paling banyak dijaga oleh tentara
Roma adalah Yerusalem, karena bangsa Yahudi adalah bangsa yang paling keras,
paling berjiwa revolusioner, paling tidak mengenal kompromi, misalnya,
mereka menyembah Yahweh — Allah yang sejati. Mereka menolak untuk menyebut
Kaisar sebagai Tuhan. Menurut standar Roma, tindakan itu merupakan suatu
pemberontakan terbesar, maka diutusnya sejumlah besar tentara, kira-kira
seratus delapan puluh ribu orang guna menjaga Yerusalem. Baik Damsyik,
Kapadokia, maupun kota-kota lain, tak ada yang pernah dijaga oleh bala
tentara sebanyak itu. Apalagi pada masa raya, ketika puluhan bahkan ratusan
ribu orang Yahudi dari berbagai tempat berkumpul di Yerusalem, maka
pemerintah Roma akan mengerahkan ratusan ribu tentara untuk menjaga keamanan
di sana secara ketat.

Bila tentara-tentara itu menggunakan senjata dengan semena-mena, tentu
rakyatlah yang akan sangat dirugikan. Yang kedua, Yohanes Pembaptis berkata,
"Jangan menginginkan uang lebih dari seharusnya. Kamu telah diberi kecukupan
oleh pemerintah Romawi, puaskanlah dirimu dengan apa yang ada padamu." Saya
disadarkan; Saat seseorang dipenuhi oleh Roh Kudus, Tuhan memberinya
bijaksana, keberanian, standar yang bisa dijadikan pedoman dari jaman ke
jaman, sekaligus sarana untuk menghakimi umat mausia: Puaskanlah dirimu
dengan apa yang kau miliki, jangan gunakan kekerasan untuk menindas mereka
yang tidak menyandang senjata.

Mengapa sebelum penulis membahas soal harta, ia terlebih dahulu berbicara
tentang prinsip di ayat 5? Karena tamak adalah dosa yang sangat besar, suatu
larangan yang ditekankan oleh Alkitab. Bahkan hukum kesepuluh dari Taurat
Musa berbunyi, "Jangan menginginkan istri, budak, hewan kepunyaan orang",
dijadikan dasar bagi Hak Asasi Manusia dalam konstitusi PBB, yang berlaku
untuk semua pemerintahan dunia sampai hari ini: Wajib memproteksi hak milik
pribadi, tak seorang pun boleh mengganggu istri, anak, harta, rumah
kepunyaan orang lain, karena milik pribadi itu sah dan diizinkan. Tuhan
berpesan, jangan mengingini, artinya Ia memagari kepemilikan manusia. Saat
mata seseorang melirik ke dalam pagar orang dan hatinya berhasrat melewati
pagar itu, ia disebut pelanggar hukum. Jangan mengingini harta orang,
puaskan dirimu dengan apa yang sudah Tuhan karuniakan untukmu. Kalau kau
memboroskan apa yang sudah diberikan-Nya atau merebut apa yang belum Ia
berikan kepadamu, kau adalah pencuri. Sikap yang Tuhan sahkan dan izinkan
adalah merasa puas atas apa yang sudah kau miliki dan mau menunggu untuk apa
yang belum kau miliki sambil bekerja dengan giat. Perasaan memiliki dan
tidak memiliki selalu mengganggu diri kita, mengapa ia punya, saya tidak
punya; saya juga menginginkannya. Keinginan seperti itulah yang membuat kita
berani melompat pagar, berani melawan kehendak Tuhan. Mari kita kembali pada
prinsip ini: Puaskan dirimu dengan apa yang ada pada dirimu, apa yang kita
miliki. Karena Tuhan berjanji: "Aku tidak akan meninggalkanmu, tidak akan
membuangmu."

Yesus Kristus pernah mengutip kalimat dari Perjanjian Lama, dalam Kitab
Musa: Manusia hidup bukan hanya bersandar pada roti saja; artinya kita butuh
roti, makanan, harta benda, tetapi ada segi lain yang perlu kita perhatikan,
yaitu firman yang bersumber dari mulut Allah. Itulah yang membuat hidup kita
berarti. Versi lain terdapat di Yohanes 6:63, "Yang menghidupkan manusia
adalah roh, bukan tubuh. Perkataan yang Kukatakan padamu adalah Roh, adalah
hidup." Perhatikan ucapan Yesus itu. Yang menghidupkan manusia adalah roh,
artinya roh itu hidup. Hidup berasal roh, tubuh tak terhitung apa-apa. Tentu
saja bukan maksud Yesus mengatakan bahwa tubuh kita tidak berguna, seperti
teori soma sema, tubuh adalah penjara, yang diyakini oleh Pythagoras, filsuf
Yunani, atau ajaran Buddhisme: Tubuh tak berarti apa-apa. Yang Yesus
tegaskan adalah bahwa yang menghidupkan manusia bukan tubuh melainkan roh,
tanpa roh, tubuh tidak akan berfungsi. Lanjut-Nya, "…the word which I
spoke to you is life, is spirit." Jadi, hidup manusia selama berpuluh-puluh
tahun di dunia bukan hanya bersandar pada roti, melainkan pada the word of
God. Saya yakin kalian yang selalu berbakti di tempat ini akan merasa
kosong, jika mimbar ini tidak menyuarakan firman Tuhan. Memang, kali pertama
Anda berbakti di sini merasa tidak enak, karena khotbah saya tidak dibarengi
lelucon atau cerita, tetapi marah-marah; Tidak mudah dicerna, banyak teori.
Tetapi setelah kalian benar-benar merasakan manfaat dari firman Tuhan,
barulah kalian sadar, tanpa firman, apalah artinya hidup ini? Kosong belaka.
Kalau firman tidak mengisi hidup kita, tidak menuntun tindak-tanduk kita,
kita tidak tahu hidup ini akan berjalan ke mana. Yang paling celaka ialah
setelah mendengar firman kalian tetap melangkah di jalan yang serong, jalan
yang salah, jalan orang duniawi. Hidup kalian seperti hidup orang Farisi,
berpengertian penuh tetapi pelaksanaannya kosong. Akibatnya, kau bukan
menjadi saksi Tuhan, tapi malah mempermalukan nama-Nya. Tuhan berjanji, 'Aku
tidak akan membuang kamu, membiarkan kamu." Artinya, Ia akan terus-menerus
menjaga kita. Itu sebabnya, cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu,
pandai-pandailah mengatur milikmu. Jika kamu benar-benar hidup di hadapan
Tuhan, Ia bukan saja sanggup mencukupi, tetapi juga memberi lebih dari
sekadar cukup.

Mengapa masih ada orang Kristen yang selalu mengkhawatirkan ini dan itu?
Karena mereka hanya dengan mulut mengaku dirinya beriman; otaknya tahu apa
itu iman, namun sesungguhnya tidak betul-betul beriman pada Tuhan. Itu
sebabnya, kita perlu belajar untuk sungguh-sungguh beriman pada Tuhan.
Sesungguhnya saya merasa sangat kasihan kepada mereka yang sejak kecil cukup
makan, tak pernah lapar satu kali pun, karena mereka tidak akan pernah tahu
apa itu perjuangan, apa itu bersyukur pada Tuhan. Seorang pendeta
menuturkan: 'Aku masih ingat saat pertama kali aku memegang sepeda itu, air
mataku bercucuran. Aku menaiki sepeda itu dengan hati yang begitu haru,
begitu puas, karena aku sudah menantinya selama dua ratus hari. Selama itu
aku terus berharap kapan hari itu akan tiba, sampai aku menaiki sepeda itu,
barulah aku sadar aku sudah memilikinya.'

Tapi anak-anak kita tidak lagi mempunyai pengalaman seperti itu, karena saat
mereka menginginkan sepeda, kita segera membelikannya, bahkan saat mereka
menginginkan mobil sekalipun, kita segera menyediakannya. Sebelum mereka
sanggup mencari uang, mereka sudah mengenakan pakaian termahal. Sebelum
mereka mencucurkan keringat, mereka sudah memeras orang lain, bahkan mereka
selalu mencerca: 'Toh Papa punya uang, mengapa Papa tidak membelikan yang
baik untukku? Papa jahat.' Apa jadinya anak-anak jaman ini, setelah sekian
puluh tahun tak ada peperangan, kelaparan; anak-anak kita hanya tahu memeras
orangtua, memaksa orangtuanya memberikan ini dan itu buat mereka. Saya
selalu mendidik anak-anak saya seperti ini: Saat saya menggunakan barang
yang bagus, yang mahal, mereka tidak berhak berkomentar, karena ini adalah
jaman saya. Bagaimana susahnya masa lalu saya, kalian tidak tahu. Kalian
juga perlu belajar berjuang untuk dirimu sendiri. Namun, susah sekali,
bukan? Karena hidup kita sekarang ini sudah cukup nyaman, mengapa kita harus
membiarkan anak kita hidup sengsara? Hidup kita cukup kaya, mengapa kita
membiarkan anak-anak hidup miskin? Itu sebabnya orang yang dulunya pernah
miskin, setelah dia menjadi kaya akan membuat hidup anak-anaknya seperti di
surga. Namun faktanya, mereka tidak merasa hidupnya cukup nyaman, karena
mereka sudah terbiasa dengan hidup seperti itu. Sewaktu kenikmatannya
berkurang sedikit saja, ia akan memandangnya sebagai suatu siksaan dan itu
membuatnya dendam padamu. Inilah dunia.

Mendidik anak itu susah, bukan? Saat hidup kita miskin, kita memang tak
mampu membelikan apa-apa untuk anak-anak. Setelah hidup kita lebih dari
cukup, masakan kita tidak memberi apa-apa buat mereka? Kalau diberi, ia tak
punya daya juang, karena dia tak tahu apa itu susah, bagaimana rasanya dari
tidak punya sampai punya, bahkan cenderung merasa memang sudah semestinya
dirinya hidup berkecukupan. Kurang sedikit saja sudah dia anggap sebagai
penderitaan, memikul salib, dan lain-lain. Kadang-kadang saya mendengar
orang mengeluh: Ini susah, itu susah, tanpa menyadari kalau saja orang lain
bisa melewati hidup seperti itu tentu akan tertawa sampai tak bisa
mengatupkan mulutnya, berterima kasih pada Tuhan sampai setiap hari
mengadakan syukuran, sementara ia masih belum merasa puas dengan apa yang
ada pada dirinya.

Apa artinya: puaslah dengan apa yang sudah kau miliki? Kau tidak perlu
serakah, tak perlu merebut sesuatu yang bukan milikmu. Saya merasa sedikit
sulit untuk mendefinisikan serakah. Manakala manusia tak pernah maju,
bukankah ia sama dengan binatang? Tetapi kalau ia terus menuntut maju,
bukankah ia bisa disebut serakah? Memang paradoks. Apakah bedanya serakah
dengan berjuang? Untuk membedakannya, kita butuh bijaksana Tuhan. Untuk itu,
saya akan memberikan sebuah prinsip: Menginginkan, bahkan merampas sesuatu
yang Tuhan karuniakan kepada orang lain dengan ambisi liar, itu yang disebut
serakah. Bila kamu ingin maju, ingin lebih pintar dan lebih pintar lagi,
bahkan ingin menjadi kaya, berkuasa, dan besar sekalipun, itu tidaklah
salah, karena Allah tidak pernah mencegah manusia mempunyai ambisi pribadi,
mempunyai aspirasi untuk maju.

Mungkin kamu bertanya, mana ada ayat yang berbicara seperti itu? Yesus
berkata, "Jika kamu ingin menjadi besar, layanilah orang lain." Maksudnya,
Tuhan tidak melarang orang menjadi besar, namun ada jalurnya, ada caranya,
yakni menjadi hamba, melayani. Kadang kita salah menafsir Alkitab, kita
berpikir: Allah tidak memperbolehkan kita begini dan begitu, kita lantas
menjadi kaku. Tindakan tersebut tidak berbeda dengan orang yang menguburkan
satu dinar di bawah tanah sambil berdalih rendah hati, sambil menuduh orang
yang mengusahakan lima dinar dan berhasil mendapat keuntungan lima dinar
sebagai orang yang serakah. Padahal itu bukan maksud Tuhan. Ia justru
menuntut orang yang diberi lima talenta menghasilkan lima talenta, orang
yang diberi dua talenta harus menghasilkan dua talenta. Buktinya, orang yang
menerima lima talenta dan mendapat untung lima talenta tidak dimarahi oleh
Tuhan, tetapi orang yang memperoleh satu talenta dan menguburkannya sambil
berdalih rendah hati, tidak berambisi, tidak serakah, ialah yang dimarahi
oleh Tuhan.

Mungkin kau bertanya, bukankah itu berarti Tuhan membela orang kaya dan
menghina, bahkan menghakimi orang yang miskin? Tidak. Perumpamaan itu
mengajarkan kita bahwa: Talenta yang Tuhan beri haruslah kita imbangi dengan
perjuangan. Itulah sebabnya saya tidak berani tidak banyak berkhotbah, tidak
berani malas bekerja, karena saya tahu, Tuhan akan menghakimi saya lebih
daripada pendeta-pendeta lain. Dari manakah saya tahu akan hal itu? Tuhan
sudah memberi banyak talenta, kesempatan pada saya, maka saya harus
mengembangkan, harus bekerja keras, agar kelak saya bisa
mempertanggung-jawabkannya pada Tuhan. Kalau orang mengkritik saya serakah,
tidak puas dengan apa yang sudah ada, terus-menerus menginginkan ini dan
itu, padahal itu adalah kewajiban yang Tuhan tanamkan di dalam jiwa saya,
saya hanya bisa berkata, 'Tak ada keserakahan untuk diri pribadi saya, yang
ada hanya untuk memperluas Kerajaan Tuhan.' Kalau saya ingin membangun
gedung gereja yang besar, itu karena ada begitu banyak orang membutuhkan
firman Tuhan. Saya harus bisa membedakan antara serakah dan berjuang,
serakah demi keuntungan diri sendiri dan demi iman.

Berikut ini saya akan merumuskan beberapa hal; Satu, merampas sesuatu yang
bukan milikmu, itu disebut tamak. Dua, tidak mau berjuang mencapai hasil
yang maksimal, itu disebut malas. Malas bukan monopoli orang yang
bersantai-santai. Orang yang kelihatannya rajin pun bisa dikategorikan
malas. Kemalasan akan membuahkan kemiskinan. Kemiskinan membuahkan iri hati.
Iri hati membuahkan keserakahan. Keserakahan mencetuskan peperangan. Hal-hal
seperti itu selalu terjadi baik di dalam diri personal maupun dalam
masyarakat, baik secara lokal maupun secara internasional. Ada orang yang
merasa dirinya miskin, bukan karena ia tidak sanggup mencukupi kebutuhan
hidupnya, melainkan karena ia membanding-bandingkan dirinya dengan orang
lain.

Sebelum orang asing masuk ke pedalaman Irian Jaya, mereka tidak pernah
merasa dirinya miskin, hanya mengenakan sehelai koteka saja sudah merasa
cukup. Tapi setelah orang asing datang dengan mengendarai mobil, mereka
mulai merasa dirinya miskin, timbul rasa ingin memiliki, tapi bukan lewat
cara berjuang melainkan merampas, membunuh, dan sebagainya. Itu sebabnya,
timbulnya kesenjangan sosial bisa disebabkan oleh kaum imperialisme,
kapitalisme, bisa juga disebabkan oleh sifat membandingkan diri dengan cara
yang tidak wajar.

Sebenarnya, membanding-bandingkan diri dengan orang lain adalah hal yang
lumrah, karena Tuhan menanamkan relativisme di dalam diri kita. Murid-murid
Yesus pun masih mempunyai sifat itu. Setelah Yesus memberitahu Petrus,
"Dengan sesungguh-sungguhnya Aku berkata padamu: Waktu kau muda, kau bisa
mengabarkan Injil ke sana ke sini dengan bebas, tapi waktu kau tua, orang
akan mengikat tanganmu, membawamu ke tempat yang tidak kau inginkan."
Artinya, kau akan dianiaya, mati dengan sangat mengenaskan.

Petrus segera bertanya, 'Bagaimana dengan dia (Yohanes)?' Nyatalah di sini
bahwa ia mulai membanding-bandingkan dirinya dengan Yohanes. 'Aku harus
menderita, bahkan mati martir bagi-Mu, lalu bagaimana dengan Yohanes?'
Apakah Yesus menjawab, 'Mengenai dia, nanti Kuberitahu, tentu saja Aku akan
memperlakukan kalian dengan adil?" Tidak! Anugerah yang Tuhan sediakan bagi
tiap-tiap orang didasarkan atas kedaulatan-Nya. Maka jawab-Nya, "Kalau Aku
menghendaki dia menunggu sampai Aku datang kembali, apa urusannya denganmu?"
Tuhan Yesus sangat tegas, Ia tidak peduli apakah murid-murid-Nya menganggap
Dia berlaku tidak adil. Ia menjawab: Itu adalah hak-Ku. Kalau Aku
menghendaki dia menunggu sampai Aku datang kembali sementara menghendaki kau
mati syahid bagi-Ku, apa urusannya bagimu? Ikutlah Aku! Membandingkan diri
dengan orang lain itu biasa, tapi itu adalah sifat dosa yang harus kita
pertanggungjawabkan pada Tuhan. Merasa puas atas apa yang sudah Tuhan beri,
tidak banyak membanding-bandingkan diri dengan orang adalah dasar dari
kerohanian yang stabil. Kadang perasaan susah, tidak enak muncul, karena
kita membanding-bandingkan diri dengan orang lain: Mengapa ia begini,
mengapa saya begitu? Kemudian disusul dengan rasa tidak puas akan apa yang
sudah Tuhan berikan padamu. Tuhan tidak pernah bersalah, kalau Tuhan hanya
memberimu sedemikian adalah karena kau memang hanya patut menerima
sedemikian, kau harus bisa menerima. "Kalau kau rendah hati, kau aka
mendapatkan anugerah berlebih," firman-Nya. Tuhan mencegah orang yang
sombong, memberkati orang yang rendah hati, memberikannya anugerah yang
lebih.

Ketika saya masih kecil, saya merasa bingung akan kedua pernyataan itu.
Kalau saja ayat itu berbunyi: 'Tuhan mencegah, mematahkan jalan orang
sombong dan memberkati orang yang rendah hati,' tentu sudah cukup jelas,
bukan? Mengapa perlu ditambah dengan pernyataan: 'karena Ia memberi anugerah
yang lebih'? Akhirnya, saya temukan: Orang yang rendah hati itu, selain
merasa puas dengan apa yang sudah Tuhan berikan padanya, juga perlu berjuang
untuk memperoleh anugerah yang lebih. Jadi, rendah hati bukanlah suatu sikap
lahiriah, melainkan satu jiwa yang selalu merasa puas dengan pemberian
Tuhan, juga melihat adanya kemungkinan untuk berjuang. Maka rumusan saya
untuk rendah hati adalah tidak pernah merasa puas untuk sesuatu yang pernah
kita capai, melainkan terus menuntut. Apa yang dituntut? Yang dituntut ialah
kebenaran, bukan harta. Mengejar lebih banyak uang, menuntut untuk menjadi
lebih kaya, tidaklah salah, tetapi tuntutlah bagian yang sudah Tuhan
tetapkan bagimu, bukan merampas bagian yang sudah Tuhan berikan bagi orang
lain. Merebut milik orang lain adalah serakah, tapi berjuang untuk apa yang
Tuhan janjikan adalah sikap hidup yang benar.

Kita harus bisa memisahkan keduanya dengan jelas, untuk itu kita perlu
mengenali batasan-batasannya:

1. Kalau kekayaan kita peroleh dengan jalur yang benar, tentu tidak bisa
disebut serakah.

2. Kalau kekayaan yang kita simpan adalah hasil dari perjuangan atau
bijaksana kita, tentu tidak bisa disebut serakah.

3. Kalau kita menggunakan harta kita sejalan dengan prinsip Tuhan, dengan
pimpinan Roh Kudus, bukan dengan egois, itu juga tidak bisa disebut budak
harta.

Janganlah kita menjadi budak dosa, budak harta, budak nafsu diri kita
sendiri. Apa maksudnya? Jangan sampai hidup kita berantakan, karena kita tak
mampu mengendalikan nafsu, maka nafsulah yang akan mengendalikan kita.
Karena kita tak mampu mengendalikan uang, maka uanglah yang akan
mengendalikan kita. Karena kita tak mampu menguasai emosi, maka emosilah
yang menguasai kita. Karena kita tak mampu menguasai diri, maka diri yang
melawan kehendak Allah akan menguasai kita. Paulus berkata, "Aku senantiasa
menaklukkan tubuh, agar tubuh menjadi hamba bagiku." Begitu jugalah kita
mengelola uang kita. Tuhan memberikan uang pada kita untuk menguji kita,
bukan untuk kita nikmati semau kita. Sebelum kita mati, kita harus bisa
mengatur uang dengan baik.

Ada seorang yang kaya raya. Saat ia mati, ia mewariskan semua hartanya untuk
anak tunggalnya. Namun beberapa bulan kemudian, anak tunggalnya meninggal
dunia, orang bertanya-tanya untuk siapakah hartanya? Puji Tuhan, sebelum ia
mati, ia telah mengalokasikan sembilan puluh persen hartanya untuk pekerjaan
Tuhan, hanya sebagian kecil saja ia sisakan untuk masa tuanya. Maka waktu ia
meninggal dunia secara mendadak, orang memuji kebijaksanaannya, karena saat
uang masih di tangannya, ia menjadi tuan, bukan budak, atas uangnya.

Banyak orang mencari, bahkan berhasil mengumpulkan banyak uang dalam
hidupnya, tapi setelah ia mati, uangnya bukan saja tidak menjadi berkat
malah menjadi petaka bagi anak-anaknya. Mereka memperbutkan uangnya sampai
saling membunuh. Mungkin kau berkata: Aku mendapat banyak uang karena aku
hebat, pintar, sukses, giat berjuang. Semua itu benar, tapi tahukah kau
bahwa hidupmu hanya beberapa puluh tahun saja, dan uang bukan milikmu untuk
selama-lamanya? Kalau uangmu berlebihan, permisi tanya, dari mana kau
mendapatkannya? Dari hasil perjuanganmu atau dari hasil rampasanmu? Dari
keserakahan atau dari keringatmu sendiri? Dihadiahi orang atau apa?

Saya sering berpesan pada hamba-hamba Tuhan yang lebih muda dari saya:
Kalian harus bisa membedakan sumber keuanganmu, juga motivasi pemberinya.
Orang memberi uang karena ingin membeli kamu, menyuap kamu, memperalat kamu;
atau karena menghargai kamu, menghormati Tuhan atau untuk kau pakai dalam
pekerjaan Tuhan? Juga harus tahu ke mana uang itu kalian pakai, jangan
serakah, jangan kuatir, jangan merampas, jangan menginginkan milik orang
lain. Setelah kalian mendapatkan, jangan biarkan uang membelenggu diri
kalian, tetapi gunakanlah uang itu dengan baik. John Wesley pernah
berkhotbah, "Hai orang Kristen, carilah uang dengan giat. Amin? (Lalu jemaat
menjawab "Amin!"). Setelah mendapat banyak uang, simpanlah uangmu dengan
baik, jangan memboroskannya. Amin? (Jemaat menjawab "Amin!"). Setelah itu,
persembahkan sebanyak mungkin pada Tuhan. Amin?" Lalu suara "Amin" pun
menghilang. Semua orang saling berpandangan, tapi tak terdengar lagi kata
"Amin!"

Mengapa Tuhan memberi kita kekayaan lebih dari yang kita butuhkan? Jika kau
tidak hidup di dalam iman, tapi hidup di dalam kekuatiran, meski diberi
gunung emas sekalipun tetap tidak akan puas dengan apa yang kau miliki. Jika
Tuhan memberimu kecukupan dan kau bisa menggunakannya dengan baik, kau akan
menyaksikan bahwa Tuhan tak pernah meninggalkanmu.

Salah satu ujian Tuhan yang paling kejam adalah mengirim Elia ke rumah janda
di Sarfat. Janda itu sudah ditinggal mati oleh suaminya, sudah tak
berpengharapan, karena ia harus membesarkan seorang anak lagi. Padahal
miliknya hanya sisa sedikit tepung dan sedikit minyak, maka pikirnya: Aku
akan membuat roti untuk santapan terakhir kami, esok kami tinggal tunggu
mati bersama-sama (karena jaman itu adalah jaman kelaparan). Tapi Tuhan
mengirim Elia datang mengetuk pintu rumahnya.

"Kaukah janda itu?"

"Ya," jawabnya.

"Siapakah Bapak?"

"Aku adalah nabi Yehovah (Yahweh). Namaku Elia. Tuhan telah menggerakkan
hatiku dengan roh-Nya untuk tinggal di rumahmu."

Janda itu mungkin berkata dalam hatinya, "Oh Tuhan, apa Kau tidak salah?
Mengapa Kau tidak mengirimnya ke rumah orang kaya saja, malah mengirimnya ke
rumahku, seorang janda miskin, di jaman kelaparan ini? Belum lagi
perawakannya besar, kantong nasinya pasti besar juga." Tapi sanggupkah si
Janda menolaknya? Perkara itu sungguh tidak dapat kita pahami. Elia seorang
lelaki, dikirim ke rumah perempuan, janda lagi. Mungkin orang di sekitar
sana akan bergunjing: Apa-apa ini? Untuk apa dia menumpang di rumah seorang
janda? Untuk bermain seks atau apa? Memang cara Tuhan seringkali tidak bisa
kita pahami: Janda miskin itu disuruh menghidupi lelaki yang tubuhnya besar.
Dari manakah ia bisa mendapatkan makanan? Kalau saja mereka bertiga mati
kelaparan, orang tentu akan berpikir, "Tuhan mengirim hamba-Nya untuk
membunuh mereka." Tapi janda itu begitu taat, dia mendahulukan pekerjaan
Tuhan. Dan ini adalah pelajaran yang penting.

Tuhan sudah mengirimnya, maka janda itu menyuruh Elia masuk dan menunjukkan
kamarnya, lalu pergi menyediakan makan baginya. Saat ia di dapur, ia bisa
saja mengutuk Tuhan, "Mana mata-Mu, makanan apa yang ada di dapurku?" Tapi
janda itu tidak berbuat demikian. Setelah ia memanggang roti, ia
menyuguhkannya pada Elia. Lalu kembali ke dapur untuk menangis di sana,
karena ia dan anaknya tinggal menunggu mati kelaparan. Tetapi begitu sampai
di dapur, ia melihat tepungnya seperti tidak berkurang, masih sebanyak tadi.
Kalau saja ia tidak membuatkan roti untuk Elia hari itu, ia dan anaknya
pasti mati. Justru karena ia memberikannya pada Elia, Tuhan memberinya lagi.
Ia bahkan bisa membuat roti bagi dirinya dan anaknya. Tepung dan minyak yang
ia miliki tetap sebanyak itu.

Orang bertanya pada saya, "KKR tahun 2003 ini diadakan di Stadion Utama? Ini
jaman apa, mengapa kau berani merencanakan KKR di Indonesia dengan biaya
sebesar itu? Dari mana kita mendapatkan dana?" "Saya juga tidak tahu," jawab
saya, "Saya hanya tahu berjanji dengan iman, GRII pusat paling sedikit
memberikan lima ratus juta rupiah." "Apa jadinya kalau dana tidak cukup?"
"Saya hanya tahu itu adalah perintah Tuhan. Saya harus ingat dulu, perkara
yang Tuhan ingin kita kerjakan, nanti Tuhan akan menyediakan." Ada orang
juga bertanya, "Anda ingin membangun gereja besar, dari mana dananya?" "Saya
juga tidak tahu. Yang saya tahu, di Jakarta ada begitu banyak bangunan
raksasa untuk pekerjaan dunia, mengapa kita tidak bisa membangun bangunan
untuk pekerjaan Allah Bapa kita di surga? Biarpun mungkin memakan waktu yang
cukup lama, tapi harus kita kerjakan. Kiranya kehendak Tuhan saja yang
jadi."

Orang dunia berani melakukan perkara-perkara besar untuk dunia, jika anak
Tuhan tidak berani melakukan perkara-perkara besar untuk Tuhan, tidak mau
betul-betul berjuang bagi pekerjaan Tuhan, masih beranikah ia menyebut
dirinya mengasihi Tuhan? Begitu banyak uang yang telah kau pakai untuk
keluargamu, mengapa kau tidak berani mempersembahkan sesuatu untuk pekerjaan
Tuhan? Pada hari ketika janda itu memberikan jatah makanannya yang terakhir,
pada hari itu pula Tuhan melakukan mujizat. Selama tiga setengah tahun, ia
tak pernah kekurangan makanan.

Jangan serakah, jangan kuatir, jangan takut, jangan berpikir Tuhan sudah
meninggalkanmu, karena Tuhan sudah berjanji, "I will never forsake you, I
will never leave you – Aku akan selalu memeliharamu." Itulah sebabnya jangan
kita terus-menerus menjadi budak uang. Berkatalah pada Tuhan dengan iman:
"Aku percaya pada-Mu, Tuhan yang hidup." Amin.

Sumber: Majalah MOMENTUM No. 53 – Januari 2004

 

hal yg melekat pd org sukses

Hal yang Melekat pada Orang Sukses


Setiap orang ingin sukses, apapun caranya. Namun untuk meraihnya, tentu saja tidak mudah. Dibutuhkan perjuangan yang tidak ringan untuk meraih sukses yang Anda damba. Namun untuk mewujudkannya, ada baiknya jika Anda mencontoh tujuh hal yang melekat pada diri orang-orang sukses. Philip Humbert memperkenalkannya untuk Anda di bawah ini:

1. Tingkat pemahaman mereka
Hal pertama yang mengagumkan dari orang-orang sukses adalah tingkat pemahaman mereka atas diri mereka sendiri. Mereka tahu nilai-nilai dan tujuan-tujuan mereka. Mereka pun merasa nyaman dengan pilihan yang telah mereka buat dalam hidup ini. Jika mereka melakukan kesalahan mereka menyesalinya, namun mereka mampu berdamai dengan masa lalu. Mereka juga penuh gairah, percaya diri, dan optimis dalam memandang masa depan.

2. Tujuan yang jelas
Orang-orang yang sukses memiliki tujuan yang tertulis, mulai dari apa yang harus mereka lakukan dalam 30 hari hingga program 10 tahun.
Misalnya, para atlet yang sukses memiliki target untuk mencapai skor tertentu. Sedangkan pemimpin bisnis menuliskan target penjualan mereka. Mereka semua juga memiliki tujuan pribadi dan keluara yang dinyatakan secara detil sebagaimana tujuan profesional mereka. Saran yang kita semua pernah dengar bahwa: Tulislah tujuan Anda, benar-benar bekerja dan bermanfaat.

3. Hubungan yang kuat
Mereka semua memahami jaringan hubungan teman dan kolega mereka. Mereka memberikan penghargaannya pada pelatih atau rekan yang pernah mengajari mereka segala sesuatu. Mereka juga membukakan pintu kesempatan yang diperlukan. Mereka sangat berterima kasih dan menghargai bahwa kesuksesan adalah buah dari jalinan kemitraan dengan banyak orang yang berbeda selama bertahun-tahun.

4. Idealisme yang mengagumkan
Hal yang cukup menonjol dari orang-orang sukses adalah idealisme mereka. Mereka semua ingin melakukan suatu perubahan, mengisi hidup ini dengan penuh tujuan dan makna, atau meraih sebuah mimpi. Mereka dimotivasi dengan gairah untuk menciptakan dunia yang lebih baik, menyumbangkan sesuatu dan menolong orang lain.

5. Pragmatisme yang luar biasa
Seimbang dengan idealisme mereka, orang-orang yang luar biasa sukses ini ternyata juga amat praktis. Mereka berfokus pada pemecahan masalah, dan menggunakan tehnologi, informasi dan ketrampilan untuk meraih tujuan-tujuan yang terpenting. Mereka tidak tertarik pada teori-teori atau mempertahankan pilihan masa lalu dan tradisi-tradisi tua. Mereka menginginkan cara-cara yang praktis untuk menolong mereka sendiri dalam meraih tujuan.

6. Rasa ingin tahu yang dalam
Mereka mengobservasi budaya, membaca surat kabar, membaca tentang industri mereka. Mereka pun berusaha mempelajari semua hal yang ada di sekitar mereka. Mereka membaca tentang politik dan agama. Mereka ingin tahu tentang bursa saham dan belajar memasak. Saya terkejut bahwa sebagian besar dari mereka bukanlah ahli di bidang-bidang yang tersebut tetapi mereka amat terdidik, cerdas dan penuh rasa ingin tahu.

7. Disiplin pribadi
Mereka tidak mau membuang-buang waktu dan membohongi diri mereka sendiri. Mereka tidak membesar-besarkan atau mengecil-ngecilkan suatu masalah. Mereka tidak menggeneralisir. Orang-orang ini amat tepat saat mereka berbicara mengenai usia, hubungan, usaha atau impian-impian mereka. Angka dan tanggal, dollar dan sen, detil amat penting bagi mereka. Mereka mudah untuk diajak bicara dan jelas dalam berkomunikasi.

Setiap ketrampilan di atas memang dapat dipelajari oleh setiap orang! Tidak ada rahasia sukses. Sedangkan bakat, keluarga atau keberuntungan hanyalah sebagian kecil saja dari semua ini. Orang-orang yang amat sukses ini tahu apa yang mereka inginkan, dan menggunakan hubungan mereka, kerja keras, kesabaran dan disiplin untuk mencapai hasil yang luar biasa. Demikian juga Anda! Semoga Anda sukses….!

 

God Never Leave Us (Nice Story)

God Never Leave Us (Nice Story)

Ada sebuah suku pada bangsa Indian yang memiliki cara yang unik untuk mendewasakan anak laki-laki dari suku mereka.Jika seorang anak laki-laki tersebut dianggap sudah cukup umur untuk didewasakan, maka anak laki-laki tersebut akan di bawa pergi oleh seorang pria dewasa yang bukan sanak saudaranya, dengan mata tertutup.

Anak laki-laki tersebut di bawa jauh menuju hutan yang paling dalam.Ketika hari sudah menjadi sangat gelap, tutup mata anak tersebut akan dibuka,dan orang yang menghantarnya akan meninggalkannya sendirian. Ia akan dinyatakan lulus dan diterima sebagai pria dewasa dalam suku tersebut jika ia tidak berteriak atau menangis hingga malam berlalu.

Malam begitu pekat, bahkan sang anak itu tidak dapat melihat telapak tangannya sendiri, begitu gelap dan ia begitu ketakutan. Hutan tersebut mengeluarkan suara-suara yang begitu menyeramkan, auman serigala,bunyi dahan bergemerisik, dan ia semakin ketakutan, tetapi ia harus diam, ia tidak boleh berteriak atau menangis, ia harus berusaha agar ia lulus dalam ujian tersebut.

Satu detik bagaikan berjam-jam, satu jam bagaikan bertahun-tahun, ia tidak dapat melelapkan matanya sedetikpun, keringat ketakutan mengucur deras dari tubuhnya. Cahaya pagi mulai tampak sedikit, ia begitu gembira, ia melihat sekelilingnya, dan kemudian ia menjadi begitu kaget, ketika ia mengetahui bahwa ayahnya berdiri tidak jauh dibelakang dirinya, dengan posisi siap menembakkan anak panah, dengan golok terselip dipinggang, menjagai anaknya sepanjang malam, jikalau ada ular atau binatang buas lainnya, maka ia dengan segera akan melepaskan anak panahnya, sebelum binatang buas itu mendekati anaknya. sambil berdoa agar anaknya tidak berteriak atau menangis.

Dalam mengarungi kehidupan ini, sepertinya Tuhan "begitu kejam" melepaskan anak-anakNya kedalam dunia yang jahat ini. Terkadang kita tidak dapat melihat penyertaanNya, namun satu hal yang pasti Ia setia, Ia mengasihi kita, dan Ia selalu berjaga-jaga bagi kita

God is too wise to be mistaken.
God is too good to be unkind
So,
When you don't understand Him And
When you can't see His plan And
When you can't trace His hand
JUST TRUST HIS HEART.

 

chatting dg Tuhan

Chatting Dengan Tuhan

[ Buzz! ]

TUHAN : Kamu memanggilKu ?

AKU : MemanggilMu ? Tidak.. Ini siapa ya ?

TUHAN : Ini TUHAN. Aku mendengar doamu. Jadi Aku ingin berbincang-bincang denganmu.

AKU : Ya, saya memang sering berdoa, hanya agar saya merasa lebih baik. Tapi sekarang saya sedang sibuk, sangat sibuk.

TUHAN : Sedang sibuk apa ? Semut juga sibuk.

AKU : Nggak tau ya. Yang pasti saya tidak punya waktu luang sedikitpun. Hidup jadi seperti diburu-buru. Setiap waktu telah menjadi waktu sibuk.

TUHAN : Benar sekali. Aktivitas memberimu kesibukan. Tapi Produktifitas memberimu hasil. Aktifitas memakan waktu, Produktifitas membebaskan waktu.

AKU : Saya mengerti itu. Tapi saya tetap tidak dapat menghindarinya. Sebenarnya, saya tidak mengharapkan Tuhan mengajakku chatting seperti ini.

TUHAN : Aku ingin memecahkan masalahmu dengan waktu, dengan memberimu beberapa petunjuk. Di era internet ini, Aku ingin menggunakan medium yang lebih nyaman untukmu daripada sekedar lewat mimpi, misalnya.

AKU : OKE, sekarang beritahu saya, mengapa hidup jadi begitu rumit ?

TUHAN : Berhentilah menganalisa hidup. Jalani saja. Analisa-lah yang membuatnya jadi rumit.

AKU : Kalau begitu mengapa kami manusia tidak pernah merasa Senang ?

TUHAN : Hari ini adalah hari esok yang kamu khawatirkan kemarin. Kamu merasa khawatir karena kamu menganalisa. Merasa khawatir menjadi kebiasaanmu. Karena itulah kamu tidak pernah merasa senang.

AKU : Tapi bagaimana mungkin kita tidak khawatir jika ada begitu banyak ketidakpastian.

TUHAN : Ketidakpastian itu tidak bisa dihindari. Tapi kekhawatiran adalah sebuah pilihan.

AKU : Tapi, begitu banyak rasa sakit karena ketidakpastian.

TUHAN : Rasa sakit tidak bisa dihindari, tetapi penderitaan adalah sebuah pilihan.

AKU : Jika Penderitaan itu pilihan,mengapa orang baik selalu Menderita ?

TUHAN : Intan tidak dapat diasah tanpa gesekan. Emas tidak dapat dimurnikan tanpa api. Orang baik melewati rintangan, tanpa menderita. Dengan pengalaman itu hidup mereka menjadi lebih baik bukan sebaliknya.

AKU : Maksudnya pengalaman pahit itu berguna?

TUHAN : Ya. Dari segala sisi, pengalaman adalah guru yang keras. Guru pengalaman memberi ujian dulu, baru pemahamannya.

AKU : Tetapi, mengapa kami harus melalui semua ujian itu ? Mengapa kami tidak dapat hidup bebas dari masalah ?

TUHAN : Masalah adalah rintangan yang ditujukan untuk meningkatkan kekuatan mental. Kekuatan dari dalam diri bisa keluar dari perjuangan dan rintangan, bukan dari berleha – leha.

AKU : Sejujurnya ditengah segala persoalan ini, kami tidak tahu kemana harus melangkah …

TUHAN : Jika kamu melihat keluar, maka kamu tidak akan tahu kemana kamu melangkah.Lihatlah ke dalam. Melihat keluar, kamu bermimpi. Melihat ke dalam, kamu terjaga. Mata memberimu penglihatan. Hati memberimu arah.

AKU : Kadang – kadang ketidakberhasilan membuatku menderita. Apa yang dapat saya lakukan ?

TUHAN : Keberhasilan adalah ukuran yang dibuat oleh orang lain. Kepuasan adalah ukuran yang dibuat olehmu sendiri. Mengetahui tujuan perjalanan akan terasa lebih memuaskan daripada mengetahui bahwa kau sedang berjalan. Bekerjalah dengan kompas, biarkan orang lain bekejaran dengan waktu.

AKU : Di dalam saat sulit, bagaimana saya bisa tetap termotivasi ?

TUHAN : Selalulah melihat sudah berapa jauh kamu berjalan, daripada masih berapa jauh kamu harus berjalan. Selalu hitung yang harus kau syukuri, jangan hitung apa yang tidak kau peroleh.

AKU : Apa yang menarik dari manusia ?

TUHAN : Jika menderita, mereka bertanya "Mengapa harus aku ?". Jika mereka bahagia, tidak ada yang pernah bertanya "Mengapa harus aku ?".

AKU : Kadangkala saya bertanya, siapa saya, mengapa saya disini ?

TUHAN : Jangan mencari siapa kamu, tapi tentukanlah ingin menjadi apa kamu. Berhentilah mencari mengapa saya di sini. Ciptakan tujuan itu. Hidup bukanlah proses pencarian, tapi sebuah proses penciptaan.

AKU : Bagaimana saya bisa mendapat yang terbaik dalam hidup ini ?

TUHAN : Hadapilah masa lalu-mu tanpa penyesalan. Peganglah saat ini dengan keyakinan. Siapkan masa depan tanpa rasa takut.

AKU : Pertanyaan terakhir. Seringkali saya merasa doa – doaku tidak dijawab.

TUHAN : Tidak ada doa yang tidak dijawab. Seringkali jawabannya adalah TIDAK.

AKU : Terima Kasih Tuhan atas chatting yang indah ini.

TUHAN : Oke. Teguhlah dalam iman, dan buanglah rasa takut. Hidup adalah misteri untuk dipecahkan, bukan masalah untuk diselesaikan. Percayalah padaKu. Hidup itu indah jika kamu tahu cara untuk hidup.

TUHAN has signed out.

 

adakah yg mendoakan kita?

Adakah Yang Mendoakan Kita?

Posted: 25 January, 2009 in Faith

0

Seorang pengusaha sukses jatuh di kamar mandi dan akhirnya stroke. Sudah 7 malam dirawat di RS di ruang ICU. Di saat orang-orang terlelap dalam mimpi malam, dalam dunia roh seorang malaikat menghampiri si pengusaha yang terbaring tak berdaya.

Malaikat memulai pembicaraan, 'Kalau dalam waktu 24 jam ada 50 orang berdoa buat kesembuhanmu, maka kau akan hidup. Dan sebaliknya jika dalam 24 jam jumlah yang aku tetapkan belum terpenuhi, itu artinya kau akan meninggal dunia!

'Kalau hanya mencari 50 orang, itu mah gampang .. . ' kata si pengusaha ini dengan yakinnya.

Setelah itu Malaikat pun pergi dan berjanji akan datang 1 jam sebelum batas waktu yang sudah disepakati.

Tepat pukul 23:00, Malaikat kembali mengunjunginya; dengan antusiasnya si pengusaha bertanya, 'Apakah besok pagi aku sudah pulih? Pastilah banyak yang berdoa buat aku, jumlah karyawan yang aku punya lebih dari 2000 orang, jadi kalau hanya mencari 50 orang yang berdoa pasti bukan persoalan yang sulit'.

Dengan lembut si Malaikat berkata, 'Anakku, aku sudah berkeliling mencari suara hati yang berdoa buatmu tapi sampai saat ini baru 3 orang yang berdoa buatmu, sementara waktumu tinggal 60 menit lagi. Rasanya mustahil kalau dalam waktu dekat ini ada 50 orang yang berdoa buat kesembuhanmu' .

Tanpa menunggu reaksi dari si pengusaha, si malaikat menunjukkan layar besar berupa TV siapa 3 orang yang berdoa buat ksembuhannya. Di layar itu terlihat wajah duka dari sang istri, di sebelahnya ada 2 orang anak kecil, putra putrinya yang berdoa dengan khusuk dan tampak ada tetesan air mata di pipi mereka'.

Kata Malaikat, 'Aku akan memberitahukanmu, kenapa Tuhan rindu memberikanmu kesempatan kedua? Itu karena doa istrimu yang tidak putus-putus berharap akan kesembuhanmu'

Kembali terlihat dimana si istri sedang berdoa jam 2:00subuh, ' Tuhan, aku tahu kalau selama hidupnya suamiku bukanlah suami atau ayah yang baik! Aku tahu dia sudah mengkhianati pernikahan kami, aku tahu dia tidak jujur dalam bisnisnya, dan kalaupun dia memberikan sumbangan, itu hanya untuk popularitas saja untuk menutupi perbuatannya yang tidak benar dihadapanMu. Tapi Tuhan, tolong pandang anak-anak yang telah Engkau titipkan pada kami, mereka masih membutuhkan seorang ayah. Hamba tidak mampu membesarkan mereka seorang diri.' Dan setelah itu istrinya berhenti berkata-kata tapi air matanya semakin deras mengalir di pipinya yang kelihatan tirus karena kurang istirahat'.

Melihat peristiwa itu, tampa terasa, air mata mengalir di pipi pengusaha ini. Timbul penyesalan bahwa selama ini bahwa dia bukanlah suami yang baik. Dan ayah yang menjadi contoh bagi anak-anaknya. Malam ini dia baru menyadari betapa besar cinta istri dan anak-anak padanya.

Waktu terus bergulir, waktu yang dia miliki hanya 10 menit lagi, melihat
waktu yang makin sempit semakin menangislah si pengusaha ini,penyesalan yang luar biasa. Tapi waktunya sudah terlambat ! Tidak mungkin dalam waktu 10 menit ada yang berdoa 47 orang !

Dengan setengah bergumam dia bertanya,'Apakah diantara karyawanku,kerabatku, teman bisnisku, teman organisasiku tidak ada yang berdoa buatku?'

Jawab si Malaikat, ' Ada beberapa yang berdoa buatmu.Tapi mereka tidak Tulus. Bahkan ada yang mensyukuri penyakit yang kau derita saat ini. Itu semua karena selama ini kamu arogan, egois dan bukanlah atasan yang baik. Bahkan kau tega memecat karyawan yang tidak bersalah'. Si pengusaha tertunduk lemah, dan pasrahkalau malam ini adalah malam yang terakhir buat dia. Tapi dia minta waktu sesaat untuk melihat anak dan si istri yang setia menjaganya sepanjang malam.

Air matanya tambah deras, ketika melihat anaknya yang sulung tertidur di kursi rumah sakit dan si istri yang kelihatan lelah juga tertidur di kursi
sambil memangku si bungsu.

Ketika waktu menunjukkan pukul 24:00, tiba-tiba si Malaikat berkata, 'Anakku, Tuhan melihat air matamu dan penyesalanmu !! Kau tidakjadi meninggal,karena ada 47 orang yang berdoa buatmu tepat jam 24:00′.

Dengan terheran-heran dan tidak percaya, si pengusaha bertanya siapakah yang 47 orang itu. Sambil tersenyum si Malaikat menunjukkan suatu tempat yang pernah dia kunjungi bulan lalu.

Bukankah itu Panti Asuhan ? kata si pengusaha pelan. 'Benar anakku, kau pernah memberi bantuan bagi mereka beberapa bulan yang lalu, walau aku tahu tujuanmu saat itu hanya untuk mencari popularitas saja dan untuk menarik perhatian pemerintah dan investor luar negeri. '

'Tadi pagi, salah seorang anak panti asuhan tersebut membaca di koran kalau seorang pengusaha terkena stroke dan sudah 7 hari di ICU. Setelah melihat gambar di koran dan yakin kalau pria yang sedang koma adalah kamu, pria yang pernah menolong mereka dan akhirnya anak-anak panti asuhan sepakat berdoa buat kesembuhanmu. '

Doa sangat besar kuasanya. Tak jarang kita malas. Tidak punya waktu. Tidak terbeban untuk berdoa bagi orang lain. Ketika kita mengingat seorang sahabat lama/keluarga, kita pikir itu hanya kebetulan saja padahal seharusnya kita berdoa bagi dia. Mungkin saja pada saat kita mengingatnya dia dalam keadaan butuh dukungan doa dari orang-orang yang mengasihi dia.

Disaat kita berdoa bagi orang lain, kita akan mendapatkan kekuatan baru dan kita bisa melihat kemuliaan Tuhan dari peristiwa yang terjadi. Hindarilah perbuatan menyakiti orang lain… Sebaliknya perbanyaklah berdoa buat orang lain.

Terima kasih

Karena pahlawan sejati, bukan dilihat dari kekuatan phisiknya,tapi dari
kekuatan hatinya. Katakan ini dengan pelan, 'Ya TUHAN saya mencintai-MU dan membutuhkan- MU, datang dan terangilah hati kami sekarang…! !!'…

 

kiat efektif memajukan usaha

Kiat efektif memajukan usaha

Memiliki sebuah usaha yang besar dan berhasil tentu idaman semua orang, baik yang sudah punya usaha ataupun yang belum.  Itu merupakan sebuah sifat bawaan dari manusia yang turun temurun. Usaha yang bisa mengokohkan perekonomian dan juga kewibawaan dalam status sosialnya di masyarakat. Orang lain akan lebih menghargai kita jika memiliki sebuah usaha yang besar yang bisa mengayomi orang banyak.

Namun memiliki sebuah usaha besar dan berhasil tidak serta merta didapat. Ada banyak kendala yang menghadang. Apalagi bagi yang baru buka. Keadaan akan mencapai BEP (break event point= keadaan impas) membutuhkan waktu yang tidak sebentar.

Usaha yang baik tentunya memiliki nilai jual di mata masyarakat. Alias memiliki tempat di hati masyarakat sebagai sebuah brand atau imej atau merek. Nama tertentu identik dengan produk tertentu. Semisal kalau kita mendengar kata ferari maka orang akan mengidentikan dengan sebuah mobil mewah yang hanya orang elit saja yang bisa memilikinya. Tentunya dengan segala kelebihan mobil itu dibandingkan dengan mobil yang ada di pasaran. Atau intel, pasti orang akan beranggapan bahwa sebuah prosesor multi yang sangat dahsyat kualitasnya dalam sebuah komputer. Atau pun coca-cola sebagai contoh minuman yang sudah memiliki hati di masyarakat dengan minuman dunia, karena hampir di semua negara dapat dijumpai minuman coca cola ini. Dalam bidang pendidikan di Indonesia ada yang namanya primagama sebagai sebuah lembaga pendidikan privat yang berkualitas. Semua orang sudah menerima akan hal itu.


Kita yang baru merintis usaha harusnya belajar dari nama-nama tersebut. Apa sebenarnya kesamaan (strategi yang mereka lakukan, ed) dari keempat usaha di atas?

Kesamaannya adalah:

1.  Promosi dan promosi.

Mereka, walaupun sudah memiliki nama, akan tetapi terus dan terus mengadakan sebuah promosi, atau dalam kata orang umum disebut iklan. Tidak ada kata berhenti dalam beriklan. Bahkan untuk sebuah iklan bisa menghabiskan ratusan juta rupiah(bahkan milyaran, ed).

2. Inovasi.

Sebuah kata yang selalu harus ada. Kalau dari dulu sampai sekarang tidak pernah ada inovasi maka tidak akan berkembang. Selalu dan selalu memperbaiki kualitas dari produk  sehingga semakin bermanfaat untuk masyarakat.

3. Spesialisasi (menguasai bidang yg khusus/terbatas/dipilih).

Ferari = mobil, intel = processor, coca cola = minuman, primagama = pendidikan private.


4. Pelayanan.

Pelayanan yang baik (pelayanan prima, ed) tentunya akan menambah pelangan dan mereka pun akan selalu dan selalu mengingatnya.

Jadi, langkah apa jika memulai sebuah usaha, apa lagi yang belum memiliki modal yang besar? Jawaban pertama tantunya adalah kesiapan dari si pemilik usaha untuk memperjuangkan usahanya. Rela untuk menghabiskan waktunya untuk memperbesar usaha. Yang jadi kendala di masyarakat Indonesia adalah pada umumnya usaha hanya sebagai sambilan. 'Nyambi' begitu katanya.

Salah besar kalau mengatakan usaha sebagai sambilan. Fokus! dan fokus! Coba bayangkan, kertas tidak akan pernah terbakar kalau tidak ada suryakanta. Dengan suryakanta, cahaya matahari bisa terfokuskan pada satu titik sehingga panasnya terkumpul dan akhirnya bisa membakar kertas. Demikian pula dalam sebuah usaha, harus fokus. Kesiapan dari sang pemilik usaha untuk mencurahkan segala kemampuannya menjadi nomor satu dari segalanya. Mengerahkan segala potensi yang ada untuk mengembangkan usaha seperti yang diinginkan. Modal bukan semata-mata berupa financial, tapi ruh semangat juga harus ada. Seperti kata Aa Gym (2003) di bukunya "Aa Gym Apa Adanya", kiat dalam mengelola bisnisnya yaitu  bukan berupa finansial semata tapi keyakinan akan janji Allah, kegigihan dalam berikhtiar dan menjadi orang yang terpercaya alias kredibel.

Sebagai contoh, bagaimana mengelola usaha tempat kursus privat pendidikan (sesuai pertanyaan sahabat pembaca, ed). Maka dalam hal ini harus ada perjuangan dari sang pemilik usaha untuk mempromosikan usahanya  lewat berbagai media yang ada. Bisa lewat selebaran, brosur, spanduk, iklan di Koran atau tv, rapat orang tua murid (komite sekolah, ed) atau apa saja.

Selain itu, promosi spesifik juga harus digunakan. Pemilihan waktu yang tepat juga mempengaruhi. Semisal dalam pembagian raport, atau ketika menginjak masa ujian. Pada saat momen seperti ini promosi yang ada harus melebihi promosi dari biasanya. Harus lebih digencarkan. Sebagai pengalaman, penulis yang pernah  mengalami dan hidup di sebuah usaha Privat Belajar di kota SATRIA adalah terlihatnya sang pemilik usaha dengan gencarnya memperjuangkan sebuah lembaganya ini. Dari brosur, selebaran, spanduk, segalanya digunakan. Dan sampai sekarang pun usahanya masih berjalan. Tanpa modal dari bank pun bisa! Demikian jawabannya. Tentunya asal sudah memiliki sedikit dana untuk operasional. Dana untuk menjalankan usaha itu. Kalau itu sudah ada, modal dari bank jadi nomer sekian.

Yang jadi masalah kebanyakan adalah usaha tersebut hanya sekedar iseng dan tidak ada mood yang ada di sana. Padahal dalam pengelolaan sebuah usaha butuh keseriusan dan perjuangan. Usaha tidak akan berhasil tanpa rasa senang akan usaha yang dijalankan. Maka dari itu nikmati masa-masa perjuangan  dan pada saatnya nanti kan menenemukan masa panen juga, dan akan puas dengan apa yang telah dilakukan.

bodoh & pintar

bodoh dan pintar menurut bob sadino

Setiap orang punya perjalanan hidup yang berbeda-beda dan menerjemahkan perjalanan hidupnya pun tak akan sama kedalam petuah-petuah kata yang bermakna.

Demikian pula dengan sosok Bob Sadino yang ber-azzam untuk tidak membawa ilmu yang dimilikinya keliang kubur sebelum di ajarkan kepada anak bangsa ini.

Berikut tulisan-tulisan Beliau, semoga bermanfaat.

1. Terlalu Banyak Ide – Orang "pintar" biasanya banyak ide, bahkan mungkin telalu banyak ide, sehingga tidak satupun yang menjadi kenyataan. Sedangkan orang "bodoh" mungkin hanya punya satu ide dan satu itulah yang menjadi pilihan usahanya

2. Miskin Keberanian untuk memulai – Orang "bodoh" biasanya lebih berani dibanding orang "pintar", kenapa ? Karena orang "bodoh" sering tidak berpikir panjang atau banyak pertimbangan. Dia nothing to lose. Sebaliknya, orang "pintar" telalu banyak pertimbangan.

3. Telalu Pandai Menganalisis – Sebagian besar orang "pintar" sangat pintar menganalisis. Setiap satu ide bisnis, dianalisis dengan sangat lengkap, mulai dari modal, untung rugi sampai break event point. Orang "bodoh" tidak pandai menganalisis, sehingga lebih cepat memulai usaha.

4. Ingin Cepat Sukses – Orang "Pintar" merasa mampu melakukan berbagai hal dengan kepintarannya termasuk mendapatkahn hasil dengan cepat. Sebaliknya, orang "bodoh" merasa dia harus melalui jalan panjang dan berliku sebelum mendapatkan hasil.

5. Tidak Berani Mimpi Besar – Orang "Pintar" berlogika sehingga bermimpi sesuatu yang secara logika bisa di capai. Orang "bodoh" tidak perduli dengan logika, yang penting dia bermimpi sesuatu, sangat besar, bahkan sesuatu yang tidak mungkin dicapai menurut orang lain.

6. Bisnis Butuh Pendidikan Tinggi – Orang "Pintar" menganggap, untuk berbisnis perlu tingkat pendidikan tertentu. Orang "Bodoh" berpikir, dia pun bisa berbisnis.

7. Berpikir Negatif Sebelum Memulai – Orang "Pintar" yang hebat dalam analisis, sangat mungkin berpikir negatif tentang sebuah bisnis, karena informasi yang berhasil dikumpulkannya sangat banyak. Sedangkan orang "bodoh" tidak sempat berpikir negatif karena harus segera berbisnis.

8. Maunya Dikerjakan Sendiri – Orang "Pintar" berpikir "aku pasti bisa mengerjakan semuanya", sedangkan orang "bodoh" menganggap dirinya punya banyak keterbatasan, sehingga harus dibantu orang lain.

9. Miskin Pengetahuan Pemasaran dan Penjualan – Orang "Pintar" menganggap sudah mengetahui banyak hal, tapi seringkali melupakan penjualan. Orang "bodoh" berpikir simple, "yang penting produknya terjual".

10. Tidak Fokus – Orang "Pintar" sering menganggap remeh kata Fokus. Buat dia, melakukan banyak hal lebih mengasyikkan. Sementara orang "bodoh" tidak punya kegiatan lain kecuali fokus pada bisnisnya.

11. Tidak Peduli Konsumen – Orang "Pintar" sering terlalu pede dengan kehebatannya. Dia merasa semuanya sudah Oke berkat kepintarannya sehingga mengabaikan suara konsumen. Orang "bodoh" ?. Dia tahu konsumen seringkali lebih pintar darinya.

12. Abaikan Kualitas -Orang "bodoh" kadang-kadang saja mengabaikan kualitas karena memang tidak tahu, maka tinggal diberi tahu bahwa mengabaikan kualitas keliru. Sednagnkan orang "pintar" sering mengabaikan kualitas, karena sok tahu.

13. Tidak Tuntas – Orang "Pintar" dengan mudah beralih dari satu bisnis ke bisnis yang lain karena punya banyak kemampuan dan peluang. Orang "bodoh" mau tidak mau harus menuntaskan satu bisnisnya saja.

14. Tidak Tahu Pioritas – Orang "Pintar" sering sok tahu dengan mengerjakan dan memutuskan banyak hal dalam waktu sekaligus, sehingga prioritas terabaikan. Orang "Bodoh" ? Yang paling mengancam bisnisnyalah yang akan dijadikan pioritas

15. Kurang Kerja Keras dan Kerja Cerdas – Banyak orang "Bodoh" yang hanya mengandalkan semangat dan kerja keras plus sedikit kerja cerdas, menjadikannya sukses dalam berbisnis. Dilain sisi kebanyakan orang "Pintar" malas untuk berkerja keras dan sok cerdas,

16. Menacampuradukan Keuangan – Seorang "pintar" sekalipu tetap berperilaku bodoh dengan dengan mencampuradukan keuangan pribadi dan perusahaan.

17. Mudah Menyerah – Orang "Pintar" merasa gengsi ketika gagal di satu bidang sehingga langsung beralih ke bidang lain, ketika menghadapi hambatan. Orang "Bodoh" seringkali tidak punya pilihan kecuali mengalahkan hambatan tersebut.

18. Melupakan Tuhan – Kebanyakan orang merasa sukses itu adalah hasil jarih payah diri sendiri, tanpa campur tangan "TUHAN". Mengingat TUHAN adalah sebagai ibadah vertikal dan menolong sesama sebagai ibadah horizontal.

19. Melupakan Keluarga – Jadikanlah keluarga sebagai motivator dan supporter pada saat baru memulai menjalankan bisnis maupun ketika bisnis semakin meguras waktu dan tenaga

20. Berperilaku Buruk – Setelah menjadi pengusaha sukses, maka seseorang akan menganggap dirinya sebagai seorang yang mandiri. Dia tidak lagi membutuhkan orang lain, karena sudah mampu berdiri diatas kakinya sendiri.

sumber : http://10111522.blog.unikom.ac.id/bodoh-vs-pintar-ala.370

http://ridosandiatmanto.wordpress.com/2012/05/08/bod/#more-1354