Sabtu, 07 September 2013
Minggu, 04 Agustus 2013
melewati ujian untuk menang
Kolose 4:5
Hiduplah dengan penuh hikmat, pergunakanlah waktu yang ada
Bacaan Alkitab Setahun:Mazmur 110; Lukas 22; Hakim hakim 7-8
Sebelum
meraih sebuah kemenangan, tentunya banyak ujian-ujian yang harus
dihadapi. Banyak tantangan-tantangan yang harus dilewati.
Seorang
musisi perlu latihan selama bertahun-tahun untuk menjadi seorang musisi
yang sangat terkenal dan diakui oleh banyak orang. Seorang pilot harus
berlatih untuk menerbangkan pesawat dalam waktu lama sebelum dia
benar-benar mampu untuk menjalankan pesawat. Seorang murid, agar dapat
lulus, harus menempuh tahap dan waktu belajar yang cukup lama.
Kita
harus bisa berkorban dan disiplin waktu agar dapat menjadi hamba Tuhan
yang setia. Apabila kita setia pada perkara-perkara kecil, maka Tuhan
akan mempercayakan kepada kita perkara-perkara yang besar.
Tidak
ada yang mustahil bagi Allah. Kita bisa memenangkan semua pertandingan
yang ada, asal kita mempunyai keyakinan, niat dan usaha. Jauhkan
pikiran-pikiran negatif yang dapat membuat Anda merasa putus asa.
Percayalah bahwa Tuhan tidak pernah memberikan penderitaan yang melebihi
kekuatan kita.
Ujian akan membawa Anda kepada kaki-Nya. Tetaplah di sana, maka pengharapan itu sungguh ada.
menghadapi pencobaan 4
Menghadapi Pencobaan
Seringkali setelah membuat sebuah komitmen dalam TUHAN, baik itu tentang hubungan pribadi dengan TUHAN, atau tentang hubungan dengan sesama, atau bahkan dalam usaha untuk mengatasi kebiasaan-kebiasaan buruk (misalnya dengan mendisiplinkan diri), kita dihadapkan pada begitu banyak hal yang menjadi pencobaan bagi kita dalam menjalankan komitmen itu...
Pencobaan-pencobaan itu bukan datang dari TUHAN, karena ada tertulis bahwa TUHAN tidak mencobai siapapun (bdk. Yakobus 1 : 13). Trus dari mana??? Menurut Firman TUHAN, pencobaan pencobaan itu datangnya dari keinginan kita sendiri. Saat dalam diri kita timbul keinginan terhadap sesuatu yang bertentangan dengan kehendak TUHAN, itulah pencobaan.
Misalnya saat sedang menghadapi ujian di sekolah awalnya kita berniat untuk tidak menyontek. Namun, ketika pengawas meninggalkan ruanga sehingga membuka kesempatan bagi kita untuk menyontek, dalam hati kita timbul keinginan untuk menyontek. Inilah yang disebut pencobaan.
Contoh lainnya, misalnya saat kita telah membuat komitmen untuk tidak menonton "film orang miskin" (baca : porno) lagi, tiba-tiba kita melihat atau mendengar ada orang di sekitar kita yang menonton itu dan timbul keinginan kita untuk melanggar komitmen itu, itulah pencobaan.
Firman TUHAN juga udah memberitahukan kepada kita bahwa jika kita membuahi keinginan - keinginan itu, maka ia akan melahirkan dosa yang pada akhirnya akan membawa kita kepada maut. So, kita ga boleh dong melakukan keinginan kita itu (pencobaan)... tapi ga sedikit dan ga jarang kita menemukan orang-orang jatuh ke dalam pencobaan karena tidak sanggup mengatasi keinginan-keinginan yang timbul itu. Bahkan mungkin kita juga termasuk dari orang-orang tersebut... kok bisa? ya bisa lah... kekuatan kita secara alami memang ga bakalan bisa mengatasi desakan desakan keinginan dari diri kita sendiri.
Jadi... apa yang harus kita lakukan???
mari kita menaruh perhatian kita pada firman yang ditulis di Mazmur 119 : 9
Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih?
Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu.
Yupzz.... dengan menjaga hidup kita sesuai dengan apa yang diajarkan firman TUHAN. Untuk itu, hal yang harus kita lakukan untuk bisa lepas dari berbagai pencobaan adalah
- Sering-seringlah merenungkan Firman TUHAN
Saat kita membaca dan merenungkan firman TUHAN, Roh Kudus akan mengajari kita lewat firman yang kita baca itu tentang banyak hal seperti apa yang TUHAN kehendaki untuk kita perbuat, bagaimana melakukannya, apa hadiah yang diberikan-Nya kepada orang yang setia dan banyak lagi. Roh Kudus akan mengingatkan kita kembali tentang semua yang telah kita renungkan ini ketika kita berada dalam pencobaan sehingga kita beroleh alasan yang cukup kuat untuk lepas dari pencobaan - pencobaan itu.
- Sering-seringlah berdoa
Maksudku, biasakanlah berdoa setiap waktu dalam keadaan apapun. Kita harus mengandalkan TUHAN dalam segala situasi di hidup kita baik saat kita berada dalam situasi yang (menurut kita) baik maupun yang buruk, terutama saat menghadapi pencobaan. Dengan kekuatan kita sendiri, kita ga bakalan sanggup menahan desakan pencobaan itu, tapi dengan pertolongan TUHAN, kita pasti lepas dari jerat yang berusaha menjatuhkan kita itu.
- Jangan membawa diri ke dalam pencobaan, tapi kabur lah.
Ada orang yang sudah tahu bahwa adalah salah jika melanggar komitmennya, namun malah pergi ke tempat atau ke lingkungan yang justru dapat membuatnya menjauh dari TUHAN. Ini namanya membawa diri ke dalam pencobaan. Kalau udah tahu bahwa suatu lingkungan atau suatu tempat berpotensi menimbulkan pencobaan pada dirimu, jangan sok - sok hebat datang ke tempat itu, sebab kalau engkau jatuh akibatnya akan fatal. Teladanilah apa yang dilakukan yusuf. Saat nyonya potifar mendatangkan pencobaan padanya, ia tidak membiarkan dirinya dicobai dengan bertahan ditempat itu... apa yang ia lakukan? ia lari dari pencobaan itu. Dengan kata lain, ia menjauhkan dirinya dari pencobaan itu.
menghadapi pencobaan 3
Respon Dalam Menghadapi Pencobaan
Hidup
selalu memiliki korelasi / hubungan yang erat dengan yang namanya
masalah, kesukaran atau penderitaan. Di dalam Mazmur 90:10, Musa
menuliskan bahwa kebanggaan dari kehidupan yang panjang adalah kesukaran
dan penderitaan. Sehingga muncul perkataan yang cukup populer dari
orang-orang dunia: “hidup ini penuh dengan masalah, kalo gak mau menghadapi masalah, jangan hidup!
Ayat
yang menjadi pembacaan dan perenungan Firman Tuhan pada kesempatan kali
ini ini bicara mengenai “pencobaan” (yun: pi-ras-mos) yang artinya
“untuk membuktikan melalui uji coba”.
Dari
sini kita bisa mengambil definisi bebas dari pencobaan sebagai berikut :
PENCOBAAN adalah tantangan dalam kehidupan (dapat berupa pergumulanatau
persoalan) yang "diijinkan" TUHAN terjadi dalam hidup kita dengan
tujuan untuk membuktikan kualitas kita.
Contoh
konkritnya adalah seperti pd kasus AYUB! Mungkin kita sempat berpikir,
“koq Tuhan tega ya...si Ayub mengalami pencobaan sampai habis-habisan
seperti itu?”
Tapi
coba lihat apa dampak/hasil dari pencobaan yang Ayub alami, yang
pertama Ayub mengenal Tuhan secara pribadi (Ayub 42:5-6). Yang kedua
adalah untuk membuktikan kepada iblis bahwa untuk menjatuhkan satu orang
saleh yang belum mengenal Tuhan secara pribadi saja dia tidak sanggup,
apalagi menjatuhkan orang yang telah ditebus oleh Darah Kristus!
Haleluyah!
Dari
kisah Ayub ini kita belajar bahwa yang penting bukanlah pencobaannya,
tapi bagaimana kita merespon saat kita menghadapi pencobaan!
Pada kesempatan ini ini kita akan belajar 3 (tiga) respon yang benar dalam menghadapi pencobaan:
1. Sadarilah bahwa pencobaan yang kita alami adalah pencobaan biasa.
Kecenderungan
kita sebagai manusia adalah bahwa kita selalu berpikir bahwa pencobaan
yang kita sedang alami adalah pencobaan yang paling susah di muka bumi
ini dan tidak ada orang yang mengalami pencobaan seperti yang kita
alami. Padahal sesungguhnya PENCOBAAN yang kita alami itu adalah
PENCOBAAN YANG BIASA!
Beberapa
hari yang lalu, saya sempat menanyakan di sebuah kelompok COOL,
pencobaan terberat apa yang pernah mereka alami. Ada yang mengatakan
bahwa pencobaan yang paling berat buat dia adalah pada saat awal
menjadi orang kristen, ada yang bilang saat anaknya mengalami kecelakaan
2 kali, ada yang mengatakan pada saat mengalami PHK, dan ada juga yang
bilang saat ditinggalkan suami. Pada saat mereka mengalami itu semua,
rasanya sangat beraaaaat...tapi sekarang setelah mereka melalui itu
semua, mereka bersaksi bahwa pencobaan yang mereka alami dahulu adalah
pencobaan yang biasa.
2. Sadarilah bahwa Allah SETIA pada janji-Nya.
Janji yang mana? Janji bahwa DIA tidak akan membiarkan / mengijinkan kita dicobai melampaui kekuatan kita.
Dlm
menghadapi pencobaan yang menurut kita sangat berat, tidak jarang kita
berteriak kepada TUHAN : "TUHAN aku sudah tidak kuat lagi, ini terlalu
berat bagiku..." padahal kalau kita sadar, TUHAN-lah PENCIPTA kita. DIA
yang paling tahu batasan kekuatan maksimum kita. Hanya kita saja yang
tidak menyadari seberapa kekuatan kita yang sesungguhnya. Itulah
sebabnya DIA "ijinkan" pencobaan yang berat terjadi, agar kita sadar
betapa besarnya kekuatan yang DIA berikan pada kita dalam menghadapi
setiap masalah dan pergumulan.
3. Sadarilah dalam setiap pencobaan selalu ada jalan keluar yang TUHAN sediakan.
Inilah anugerah yang luar biasa bagi kita orang yang percaya pada YESUS KRISTUS.
Dengan
mengijinkan pencobaan terjadi, TUHAN TIDAK PERNAH BERMAKSUD untuk
menjatuhkan kita! Itulah sebabnya DIA memberikan jalan keluar utk kita
dalam setiap pencobaan, untuk itu di dalam menghadapi pencobaan fokus
kita harus pada TUHAN YESUS bukan pada pencobaannya! Ketika kita fokus
pada pencobaannya, mata kita akan menjadi ‘gelap’ dan tidak dapat
melihat jalan keluar yang telah DIA sediakan. Sebaliknya apabila kita
fokus pada TUHAN YESUS, mata kita akan dengan sangat jelas melihat jalan
keluar yang telah DIA sediakan bagi kita.
Tuhan Yesus memberkati. (DL).
menghadapi pencobaan 2
Tips menghadapi pencobaan:
1. Mendekatlah pada Allah dan lawanlah iblis (Yak. 4:7)
2. Jagalah hatimu dengan kewaspadaan (Ams. 4:23)
3. Jangan merasa diri kuat
4. Jangan member kesempatan kepada iblis
Seluruh isi Yakobus membicarakan kualitas hidup orang percaya. Dalam bagian ini menekankan kehidupan orang Kristen dalam pertumbuhan dan kekudusan. Bagian ini disebut pendisiplinan kehidupan orang percaya yang menuntut ketaatannya bertumbuh secara progresif, khususnya bagaimana mereka mengendalikan diri akan keinginan dan sifat-sifat lamanya. Ada 3 hal yang perlu diperhatikan:
1. Jangan menyalahkan Allah dalam hal kelemahan sifat diri (sinful nature). Dalam teologi Yahudi ada pengajaran bahwa Allah adalah sumber segala-galanya. Tetapi tidak dengan Yakobus. Peran manusia ikut ambil bagian dalam pencobaan (lih. Yak. 1:17)
2. Adanya keinginan manusia yang cenderung terikat oleh dosa.
3. Orang percaya itu harus bertahan dalam pencobaan. Bertahan mempunya arti: sabar dan ada ketekunan. Orang Kristen harus bertahan dan jangan melarikan diri. Mereka yang bertahan dan menang atas pencobaan akan menerima mahkota. Itu sebabnya untuk mengatasi pencobaan kita perlu hikmat Tuhan dan hidup takut akan Tuhan.
Pencobaan yang dialami setiap orang percaya adalah pencobaan biasa bukan luar biasa (1 Kor. 10:13). Pencobaan adalah bagian hidup dari seseorang. Oleh sebab itu, dalam Yak 1:13 dimulai dengan kata “apabila”, dan bukan “jika”. Pencobaan bukan dari Allah karena Allah sumber dari segala yang baik, tetapi datangnya dari diri sendiri karena tersesat dan terpikat olehnya. Pencobaan bisa juga dari setan. Tetapi pencobaan itu tidak akan menjadi pencobaan bagi yang tidak tersesat. Adam dan Hawa dicobai oleh setan, mereka jatuh, karena terpikat oleh rayuan iblis. Berat atau tidak pencobaan tergantung kebiasaan dan kondisi kerohanian seseorang.
Bagaimana cara menang atas pencobaan:
1. Jangan meremehkan pencobaan dan menganggap diri kuat.
2. Jangan membesar-besarkan pencobaan.
3. Arahkan pandangan pada Kristus yang lebih besar dari pencobaan
4. Datang pada Kristus, berserah, berharap, belajar pada-Nya (Mat. 11:28-29).
Sumber: warta MDC Surabaya
1. Mendekatlah pada Allah dan lawanlah iblis (Yak. 4:7)
2. Jagalah hatimu dengan kewaspadaan (Ams. 4:23)
3. Jangan merasa diri kuat
4. Jangan member kesempatan kepada iblis
Seluruh isi Yakobus membicarakan kualitas hidup orang percaya. Dalam bagian ini menekankan kehidupan orang Kristen dalam pertumbuhan dan kekudusan. Bagian ini disebut pendisiplinan kehidupan orang percaya yang menuntut ketaatannya bertumbuh secara progresif, khususnya bagaimana mereka mengendalikan diri akan keinginan dan sifat-sifat lamanya. Ada 3 hal yang perlu diperhatikan:
1. Jangan menyalahkan Allah dalam hal kelemahan sifat diri (sinful nature). Dalam teologi Yahudi ada pengajaran bahwa Allah adalah sumber segala-galanya. Tetapi tidak dengan Yakobus. Peran manusia ikut ambil bagian dalam pencobaan (lih. Yak. 1:17)
2. Adanya keinginan manusia yang cenderung terikat oleh dosa.
3. Orang percaya itu harus bertahan dalam pencobaan. Bertahan mempunya arti: sabar dan ada ketekunan. Orang Kristen harus bertahan dan jangan melarikan diri. Mereka yang bertahan dan menang atas pencobaan akan menerima mahkota. Itu sebabnya untuk mengatasi pencobaan kita perlu hikmat Tuhan dan hidup takut akan Tuhan.
Pencobaan yang dialami setiap orang percaya adalah pencobaan biasa bukan luar biasa (1 Kor. 10:13). Pencobaan adalah bagian hidup dari seseorang. Oleh sebab itu, dalam Yak 1:13 dimulai dengan kata “apabila”, dan bukan “jika”. Pencobaan bukan dari Allah karena Allah sumber dari segala yang baik, tetapi datangnya dari diri sendiri karena tersesat dan terpikat olehnya. Pencobaan bisa juga dari setan. Tetapi pencobaan itu tidak akan menjadi pencobaan bagi yang tidak tersesat. Adam dan Hawa dicobai oleh setan, mereka jatuh, karena terpikat oleh rayuan iblis. Berat atau tidak pencobaan tergantung kebiasaan dan kondisi kerohanian seseorang.
Bagaimana cara menang atas pencobaan:
1. Jangan meremehkan pencobaan dan menganggap diri kuat.
2. Jangan membesar-besarkan pencobaan.
3. Arahkan pandangan pada Kristus yang lebih besar dari pencobaan
4. Datang pada Kristus, berserah, berharap, belajar pada-Nya (Mat. 11:28-29).
Sumber: warta MDC Surabaya
menghadapi pencobaan
I.
BAGAIMANA CARANYA MENGHADAPI PENCOBAAN.
A.
Belajar & berusaha utk melihat jangka panjang segala
sesuatu terhadap pengaruh & akibatnya. Buatlah pemikiran & perhitungan
yg matang & dewasa sesuai kehendak Tuhan dgn pengertian yg benar &
bukan pengertian sendiri & semaunya.
B.
Pelajari & mengerti dgn baik 1Kor.10:13 (jelaskan
sesuai pengertian dlm ayat tsb.). Tuhan adalah setia bersama kita & telah
membrikan kuasa & kemampuan, serta jalan keluarnya. Tinggal keputusan &
tindakan kita terhadap firmanNya dgn iman & perbuatan.
C.
Berharaplah & gunakan kemampuan RK utk memperbaharui,
merubah, menguasai & memotivasi pikiran & tindakan kita sesuai FT.
yoh.14:15,16.
D.
Pasang/taruh pikiran kita menurut pikiran Kristus/FT.
Kol.3:1,2. Artinya berpikr sebagai pemenang thdp pencobaan2 itu. Serta tdk
berfokus kpd keinginan2 yg menarik kita jauh dari Tuhan & kehendakNya.
E.
Kenalilah & kuasailah kelemahan & kekurangan,
serta keterbatasan kita. Jika kita mengetahui hal 2 ini, maka kita akan lebih
peka thdp RK & FT. Shg kita mampu menguasainya. (cth. Jika kita lemah dlm
menggunakan uang, jangan pergi ke mall & baca2 iklan).
F.
Kenalilah waktu2 kelemahan yg kritis. Jangan biarkan tubuh
terlalu lapar/haus (kecuali lagi puasa, supaya tdk jadi rakus). Jangan biarkan
terlalu cepat emosi/marah. Jangan biarkan terlalu kesepian/menyendiri. Jangan
biarkan tubuh & pikiran terlalu cape/lelah.
G.
Bangunlah pertahanan dgn membaca FT, berdoa & memuji
Tuhan. Shg kita lebih peka kpd Tuhan & mudah menguasai pikiran &
perasaan kita dgn kehendakNya dari pada pikran & perasaan kita.
Melawan Godaan
Godaan apa saja yang harus Saudara lawan? Pernahkah Saudara tergoda untuk merayu seseorang yang bukan teman hidup Saudara? Jika Saudara tidak menikah, pernahkah ada dorongan untuk menerima ajakan orang yang tidak seiman untuk berkencan?
Sewaktu menonton televisi atau menggunakan Internet, seorang Kristen mungkin tiba-tiba tergoda untuk menonton apa yang najis. Apakah hal itu pernah terjadi atas diri Saudara, dan jika demikian, bagaimana reaksi Saudara?
Tindakan yang bijaksana adalah merenungkan bagaimana satu langkah yang salah dapat mengarah ke langkah berikutnya dan kemudian ke perbuatan salah yang serius. (Yak. 1:14, 15)
Pikirkan kepedihan hati yang akan ditimbulkan atas Tuhan, jemaat, dan keluarga Saudara akibat satu dosa yang serius. Sebaliknya, kita dapat memiliki hati nurani yang bersih jika kita tetap loyal kepada prinsip-prinsip ilahi. (Baca Mazmur 119:37; Amsal 22:3.)
Kapan pun Saudara menghadapi ujian semacam itu, bertekadlah untuk berdoa meminta kekuatan agar dapat melawannya.
Sewaktu menonton televisi atau menggunakan Internet, seorang Kristen mungkin tiba-tiba tergoda untuk menonton apa yang najis. Apakah hal itu pernah terjadi atas diri Saudara, dan jika demikian, bagaimana reaksi Saudara?
Tindakan yang bijaksana adalah merenungkan bagaimana satu langkah yang salah dapat mengarah ke langkah berikutnya dan kemudian ke perbuatan salah yang serius. (Yak. 1:14, 15)
Pikirkan kepedihan hati yang akan ditimbulkan atas Tuhan, jemaat, dan keluarga Saudara akibat satu dosa yang serius. Sebaliknya, kita dapat memiliki hati nurani yang bersih jika kita tetap loyal kepada prinsip-prinsip ilahi. (Baca Mazmur 119:37; Amsal 22:3.)
Kapan pun Saudara menghadapi ujian semacam itu, bertekadlah untuk berdoa meminta kekuatan agar dapat melawannya.
Sabtu, 03 Agustus 2013
Sleeping with the enemy
Sleeping with the enemy
Dengan siapa kita tidur setiap malam?
Pasangan kita.
Siapa yang kita lihat saat membuka mata di pagi hari?
Pasangan kita.
Dengan siapa kita menghabiskan sebagian besar hidup
kita?
Pasangan kita.
Artinya,
jika kita bermusuhan dengan pasangan kita,
maka kita benar-benar menghidupi kehidupan
seperti judul film yang pernah top pada tahun
90-an:
“Sleeping with the enemy” – tidur dengan musuh.
Tragis!
Hidup kita berbahagia atau tidak, sesungguhnya tergantung seberapa
baiknya hubungan kita dengan pasangan. Apalagi pernikahan adalah komitmen
seumur hidup untuk hidup bersama dalam suka dan duka hingga maut memisahkan
kita. Karena itu marilah kita belajar membangun hubungan yang terbaik dan
termanis dengan pasangan, sehingga pada gilirannya kita membangun kebahagiaan
kita sendiri. Kalau bukan kita yang mengusahakannya, lalu siapa lagi?
Jika diamati lebih jauh, banyak permasalahan dan
pertengkaran dalam pernikahan dimulai dari hal-hal kecil yang remeh: salah
memilih kata-kata, tanpa sengaja meremehkan, merasa lebih hebat dari pasangan
dan sebagainya. Jika kita tidak bersedia memaafkan, menyimpan dendam, atau
bahkan membalasnya akibatnya lama kelamaan berkembang menjadi masalah yang
bertumpuk-tumpuk. Kumpulan sakit hati kecil-kecil yang menahun inilah yang
menimbulkan pertengkaran dan permasalahan besar, yang pada titik tertentu,
mengakibatkan perceraian.
Beberapa syarat mendasar bagi pasangan yang hendak
menikah adalah kemampuan memaafkan, melupakan dan bersedia memperbaiki diri.
Kemampuan ini akan terus menerus dibutuhkan selama kita masih bernafas. Karena
pernikahan itu usaha untuk mengenal dan membangun hubungan dengan pasangan
seumur hidup.
Ada beberapa prinsip dasar yang harus kita sadari agar
dapat membangun hubungan yang harmonis:
- Suami istri adalah satu kesatuan.
Artinya, kemenangan suami sama dengan kemenangan istri,
demikian pula sebaliknya. Ada teman wanita merasa bangga saat dipuji bahwa dia
pandai berbisnis. Lama kelamaan suaminya merasa tersaingi. Istri yang bijak
menyadari dan memberikan kesempatan agar suaminya dihargai orang lain. Jika
dipuji untuk kehebatannya, sang istri bisa mengatakan bahwa “istri bisa hebat
karena memiliki suami yang luar biasa”. Demikian pula dengan sang suami,
ingatlah kesuksesan suami bisa terjadi karena ada istri hebat di belakangnya.
Mungkin saja istrinya tidak ikut bekerja, namun sang istri sudah bersusah payah
mengelola rumah tangga dengan baik sehingga sang suami bisa berbisnis dengan
tenang. Kalau rumah tangga bermasalah, tentu bisnis juga terganggu.
.
-Lupakan dan maafkan hal-hal kecil.
Hidup bersama senantiasa ada gesekan. Biasanya yang
menimbulkan gesekan adalah hal-hal kecil. Tidak mengembalikan barang pada pada
tempatnya, menutup pintu terlalu keras, lupa membawa sesuatu, lupa mematikan
lampu, tidak mau mengantar belanja dan sebagainya. Memang menjengkelkan. Tetapi
sebelum marah, renungkan kembali, apakah pertengkaran yang kita alami dan
hubungan yang mendingin sesudahnya, sepadan dengan masalahnya? Daripada
mengomel karena menutup pintu terlalu keras, kita bisa bilang: ”lain kali
pelan-pelan jika menutup pintu”. Ucapkan tanpa emosi dan nada yang manis. Jika
lain kali lupa, ingatkan kembali. Tidak perlu dibuat emosi, mengomel dan
marah-marah bukan?
Yang sering terjadi, pintu ditutup terlalu keras. Lalu
yang satu mengomel ”memang kamu kasar, sama seperti keluargamu yang
kasar-kasar”… Nah label ‘kasar’ ini yang menimbulkan dendam apalagi jika sudah
menyangkut keluarga, dendam kian membara. Tidak mau kalah, pihak lain ikut
menghina juga… Akibatnya yang bikin sakit hati bukan lagi persoalan menutup
pintu tetapi penghinaan antar keluarga. Apalagi jika orangtua dan keluarganya
mendengar, mereka ikut marah. Bahkan tidak sedikit yang akhirnya bercerai.
Jika suami tidak mau mengantar belanja, ya sudah cari
solusi lain yang bisa. Jika pasangan lupa mengembalikan sesuatu atau lupa
mematikan lampu, kita yang mengembalikannya atau mematikan lampunya.
Sesungguhnya bukan sesuatu yang berat. Tergantung cara kita memandang
persoalannya. Bukankah seharusnya kita menerima pasangan kita dengan segala
kelebihan dan kekurangannya? Kasih menutupi segala sesuatu. Tidak perlu masalah
kecil seperti itu dibesar-besarkan. Inilah bagian dari pengorbanan yang harus
kita lakukan agar hubungan pernikahan kita tetap harmonis.
Jika suatu saat pasangan melakukan hal yang benar,
segera puji dan hargai. Pujian senantiasa lebih efektif mengubah seseorang
daripada omelan.
-Bereaksi dengan bijak saat pasangan emosi.
Jika pasangan kita salah mengeluarkan kata-kata ketika
dia sedang emosi, misalnya mengatakan: bodoh, malas, teledor atau komentar-komentar
negatif lainnya, tetaplah diam! Jangan menjawab atau membalasnya. Itu untuk
menghindari pertengkaran yang tidak perlu.
Tidak perlu marah dan membalas! Toh sesungguhnya kita
tidak lebih bodoh, saat dikatakan bodoh. Kita juga tidak lebih pintar saat
dipuji pintar. Orang yang berjiwa besar adalah orang yang bisa mengendalikan
emosinya: tahu kapan harus berbicara dan kapan harus diam.
.
-Bicarakan saat suasana sudah tenang dan situasi
menyenangkan.
Tidak berarti kita harus memendam ketidakadilan
selamanya. Itu bodoh namanya. Ada teman yang mengalah terus meski sesungguhnya
sakit hati selama bertahun-tahun. Itu salah. Suatu saat, kepahitan yang
disimpan akan meledak dan akibatnya akan jauh lebih buruk. Tidak sedikit
perempuan yang jatuh cinta pada pria lain karena merasa tidak dihargai
suaminya, sementara di luar dia bertemu dengan pria yang menghargainya.
Bicarakan baik-baik apa yang kita inginkan, saat
suasana sedang santai dan nyaman. Ceritakan dengan jujur bahwa saat kata-kata
yang melecehkan dikeluarkan, itu menyakitkan. Ingatkan pasangan kita, jika
bukan suami/istri yang menghargai, lalu siapa lagi? Sikap dan perkataan kita
dalam memperlakukan pasangan, merupakan contoh bagi orang di luar sana untuk
memperlakukan pasangan kita. Jika kita menghargai pasangan kita maka orang lain
akan menghargai diri kita dan pasangan kita pula. Sampaikan dengan kata-kata
yang baik, nada yang rendah tanpa emosi. Pada dasarnya, pasangan kita itu
mengasihi kita. Kalau kita menyampaikannya dengan baik, dia juga akan merasakan
kepedihan dan luka hati kita.
-Tidak selalu harus sepakat.
Tidak semua hal bisa kita sepakati dengan pasangan. Perbedaan pandangan merupakan hal biasa. Tidak perlu kita harus merasa bermusuhan atau berhadapan saat ada hal-hal yang tidak kita sepakati. Jika itu bukan hal yang berbahaya, biarkan dulu. Tidak perlu bertengkar. Jika itu hal yang krusial, cari sumber dari buku atau bahan lainnya untuk mendukung bahwa pendapat kita benar. Atau ajak dia supaya bisa meminta pendapat orang yang ahli di bidang masalah yang kita hadapi. Jika yang dihadapi masalah bisnis, minta saran dari orang yang sukses berbisnis. Jika yang dihadapi masalah anak, cari saran dari pakar pendidikan anak. Minta supaya pasangan kita mempertimbangkan lagi, tanpa memaksa.
Jika segala upaya sudah dilakukan dan pasangan tetap bergeming, doakan saja. Serahkan masalah ini ke dalam tangan Tuhan namun hiduplah damai dengan pasangan. Tuhan bisa mengubah pikiran pasangan kita atau justru mengubah situasi yang ada. Jika situasi tetap berlangsung, mungkin Tuhan sedang membentuk karakter kita agar kita bisa belajar hidup bersama dengan damai dan penuh kasih, meski tidak sepakat. Jangan mengejar dan mencari-cari kesalahan pasangan. Itu membuat masalah kian berat. Mudah untuk memulai pertengkaran, namun sulit untuk menghentikannya. Bersikaplah cerdik dan bijak. Sesungguhnya, kita tidak pernah dapat mengubah orang lain. Kita hanya bisa menginspirasi seseorang untuk berubah. Tidak ada gunanya memaksa.
.
-Biasakan untuk berbagi mimpi.
Pasangan kita itu bukan peramal. Jadi kita harus menceritakan mimpi-mimpi kita, apa yang kita inginkan dan sebagainya. Katakan dengan jujur bagaimana kita ingin diperlakukan. “Pa, saya senang lho kalau kita sedang jalan-jalan lalu kita bisa bergandengan tangan…” atau “Liburan itu sesuatu yang sangat berarti buat saya. Sejak kecil saya punya cita-cita ingin melihat tempat-tempat yang indah.” Jika diucapkan dengan manis, tanpa menuntut, biasanya pasangan juga senang. Pasangan kita juga punya kerinduan ingin merealisasikan mimpi kita, karena dia mengasihi kita.
Tetapi jangan sekali-kali menuntut seperti ini,”Lihat itu Pa, suaminya Mira romantis sekali. Setiap jalan, Mira selalu digandeng.” Biasanya pria justru gengsi jika kita menuntut dan membandingkannya dengan pria lain. Dia justru akan bersikukuh dengan sikapnya. Dia gengsi.
Zig Ziglar, pembicara dan penulis buku terkenal, memiliki resep
pernikahannya yang bahagia selama 66tahun hingga beliau meninggal dunia, “Treat
your spouse after you get married just like you did right before you got
married.”- Perlakukan pasanganmu sesudah menikah, seperti sebelum menikah. Kita
perlu belajar menerapkannya karena resep ini sudah terbukti sukses!Tidak semua hal bisa kita sepakati dengan pasangan. Perbedaan pandangan merupakan hal biasa. Tidak perlu kita harus merasa bermusuhan atau berhadapan saat ada hal-hal yang tidak kita sepakati. Jika itu bukan hal yang berbahaya, biarkan dulu. Tidak perlu bertengkar. Jika itu hal yang krusial, cari sumber dari buku atau bahan lainnya untuk mendukung bahwa pendapat kita benar. Atau ajak dia supaya bisa meminta pendapat orang yang ahli di bidang masalah yang kita hadapi. Jika yang dihadapi masalah bisnis, minta saran dari orang yang sukses berbisnis. Jika yang dihadapi masalah anak, cari saran dari pakar pendidikan anak. Minta supaya pasangan kita mempertimbangkan lagi, tanpa memaksa.
Jika segala upaya sudah dilakukan dan pasangan tetap bergeming, doakan saja. Serahkan masalah ini ke dalam tangan Tuhan namun hiduplah damai dengan pasangan. Tuhan bisa mengubah pikiran pasangan kita atau justru mengubah situasi yang ada. Jika situasi tetap berlangsung, mungkin Tuhan sedang membentuk karakter kita agar kita bisa belajar hidup bersama dengan damai dan penuh kasih, meski tidak sepakat. Jangan mengejar dan mencari-cari kesalahan pasangan. Itu membuat masalah kian berat. Mudah untuk memulai pertengkaran, namun sulit untuk menghentikannya. Bersikaplah cerdik dan bijak. Sesungguhnya, kita tidak pernah dapat mengubah orang lain. Kita hanya bisa menginspirasi seseorang untuk berubah. Tidak ada gunanya memaksa.
.
-Biasakan untuk berbagi mimpi.
Pasangan kita itu bukan peramal. Jadi kita harus menceritakan mimpi-mimpi kita, apa yang kita inginkan dan sebagainya. Katakan dengan jujur bagaimana kita ingin diperlakukan. “Pa, saya senang lho kalau kita sedang jalan-jalan lalu kita bisa bergandengan tangan…” atau “Liburan itu sesuatu yang sangat berarti buat saya. Sejak kecil saya punya cita-cita ingin melihat tempat-tempat yang indah.” Jika diucapkan dengan manis, tanpa menuntut, biasanya pasangan juga senang. Pasangan kita juga punya kerinduan ingin merealisasikan mimpi kita, karena dia mengasihi kita.
Tetapi jangan sekali-kali menuntut seperti ini,”Lihat itu Pa, suaminya Mira romantis sekali. Setiap jalan, Mira selalu digandeng.” Biasanya pria justru gengsi jika kita menuntut dan membandingkannya dengan pria lain. Dia justru akan bersikukuh dengan sikapnya. Dia gengsi.
Pada akhirnya, dibutuhkan kasih, kedewasaan, kecerdikan dan jiwa besar untuk membangun rumah tangga yang bahagia. Ini adalah sekolah seumur hidup karena di setiap masa, tantangannya berbeda. Namun dengan beberapa strategi sederhana di atas, setidaknya kita bisa mengurangi berbagai pertempuran yang tidak perlu. Seperti kata Sun Tzu, ahli perang China yang terkenal, “dengan strategi yang tepat kita dapat memenangkan pertempuran tanpa harus bertempur.” Selamat mencoba!
.
Pernikahan bahagia adalah persatuan
dua orang yang pemaaf
Robert Quillen
.
Karena itu,
sebagai orang-orang pilihan Allah
yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan,
kerendahan hati,
kelemahlembutan dan kesabaran.
Sabarlah kamu seorang terhadap yang
lain,
dan ampunilah seorang akan yang lain
apabila yang seorang menaruh dendam
terhadap yang lain,
sama seperti Tuhan telah mengampuni
kamu,
kamu perbuat jugalah demikian.
The Book Of Colossians
Jumat, 26 Juli 2013
siapakah Tuan kita
SIAPAKAH TUAN KITA?
Bacaan: Kolose 3: 23-4:6
Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. (Kolose 3:23)
------------------------------------------------------------------
Bacaan setahun: Amsal 28-31
------------------------------------------------------------------
Dalam beberapa kesempatan ada beberapa teman yang bercerita tentang sikap atasan mereka di kantor, yang tidak pernah memberikan apresiasi atas apa yang mereka lakukan. Tidak sedikit di antara mereka yang marah dan kecewa. Tak ayal mereka melakukan tugas-tugas dan pekerjaan dengan tidak sepenuh hati dan terkesan asal-asalan. Begitulah. Tiadanya pengakuan dan penghargaan yang sepadan berakibat pada menurunnya kualitas dan produktivitas kerja.
Apakah sikap semacam itu juga patut dilakukan oleh orang percaya? Firman Tuhan berkata bahwa apa pun yang kita lakukan, kita harus melakukannya seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Tuhanlah yang harus menjadi pusat dan Tuan dari segala sesuatu yang kita lakukan. Karena itu, kita harus bekerja demi menyenangkan Tuhan. Kalau pun kita mendapat penghargaan atas apa yang kita lakukan dari manusia, anggaplah itu sekadar sebagai bonus. Tetapi, janganlah hal itu yang menjadi motivasi utama kita dalam bekerja. Sebab bila kita tidak mendapatkannya, kekecewaanlah yang akan memenuhi hati.
Jadi, apa pun pekerjaan kita, lakukanlah dengan sepenuh hati untuk menyenangkan Tuhan. Sebab penghargaan dari manusia bukanlah penghargaan utama. Pada akhirnya Tuhan akan memberikan bagian yang telah ditentukan-Nya untuk kita. Dia menghargai orang yang selalu memberi yang terbaik dalam segala keadaan dan situasi. Dan yang dapat melakukannya hanyalah orang-orang yang menjadikan Tuhan sebagai tuan atas pekerjaannya. --Piter Randan Bua
------------------------------------------------------------------
APA PUN PEKERJAAN KITA. LAKUKANLAH DENGAN BAIK
SEBAGAI WUJUD KASIH, PENYEMBAHAN, DAN PENGABDIAN KEPADA TUHAN.
------------------------------------------------------------------
Dikirim dari Alkitabku. Unduh di http://android.alkitabku.com
Langganan:
Postingan (Atom)