Kamis, 14 Oktober 2010

Memahami Peran Suami-Istri Dalam Pernikahan Kristen


Memahami Peran Suami-Istri Dalam Pernikahan Kristen
Sub Komisi Pasutri GKI Pondok Indah mengadakan kegiatan Seminar dan Diskusi dengan mengangkat topik: THE LOVE OF MONEY THE ROOT IS EVIL, Apakah Uang dapat Merusak Pasutri? Seminar dan Diskusi mengundang pembicara dari Fokus Pada Keluarga yang dibawakan oleh Novel Priatna. Acara dihadiri oleh 23 pasangan suami istri (pasutri) berlangsung amat menarik. Di awal acara Novel Priatna yang hadir bersama istri menanyakan apa tujuan pernikahan? Dan beragam jawaban dari hadirin pun berluncuran, sayangnya sebagai seorang suami maupun istri kristiani, kita benar-benar dibuatnya terbelalak karena ternyata bahwa tujuan pernikahan Kristen bukanlah untuk memperoleh kebahagiaan. Jadi… apa tujuan pernikahan sesungguhnya?

Apa Keunikan Sebuah Pernikahan Kristen?
Nilai dari sebuah pernikahan Kristen adalah terletak pada “dasar” terjadinya, yaitu inisiatif Sang Pencipta, bukan inisiatif manusia. Oleh karena itu, pernikahan bukan hanya antar dua pribadi manusia, namun ada kehadiran pribadi Sang Pencipta di dalamnya. Tujuan utama dari pernikahan Kristen “bukanlah” untuk memperoleh kebahagiaan, namun sebagai sarana untuk saling bertumbuh secara karakter, sehingga menjadi serupa dengan karakter Kristus. Yang artinya, kebahagiaan adalah “anugerah” (hadiah). Salah satu bentuk pertumbuhan yang dimaksud adalah bagaimana kita menyadari akan peran (role) utama dari seorang suami maupun seorang isteri

Prinsip Alkitab (Kej.2:18)
Suami adalah kepala keluarga, isteri adalah penolong yang sepadan (pola unequal ness). Pertanyaan kita mungkin, mengapa konsepnya harus seperti ini? Apakah Allah pilih kasih? Untuk menjawab pertanyaan tersebut hanya bisa diterima dalam iman dan ketaatan, sebab tidak selalu jalan Allah bisa dipahami. Contohnya: Mengapa Allah memilih Yakub bukannya Esau, Yehuda bukannya Yusuf, Musa bukannya Harun, Daud yang masih imut dan bukannya Kakak-kakaknya yang lebih kuat dan gagah.
Apa artinya kepala keluarga? Allah menetapkan segala “jabatan” sebagai anugerah, bukan berdasarkan bakat-bakat atau kemampuan pribadi (contoh: Musa, Daud, dll), tapi berdasarkan tanggungjawab. Dalam hal ini berlaku (termasuk) juga Kepala Keluarga (KK). Jadi, suami akan dihormati sebagai KK kalau bertanggungjawab. KK tidak sama dengan “raja yang otoriter”, tapi servant-leader (orang pertama yang meneladani Kristus).
Apa dasar perbedaan peran tersebut? Dasar perbedaan peran tidak terletak pada perbedaan jenis pekerjaan (pekerjaan rumah atau pencari nafkah), namun dalam pertanggungjawaban pekerjaan. Adapun bentuk pertanggungjawaban adalah: Suami sebagai perancang, pemikir, pengambil keputusan, servant-leader, pembela, pelindung; sedangkan Isteri sebagai penolong, memberi dukungan, teman bicara, dsb.
Bagaimana Kondisi Pernikahan Anda Saat Ini? Apakah Anda merasa terjebak? “Pernikahan itu seperti sangkar: burung-burung tanpa sadar masuk & mereka frustasi untuk dapat keluar.” (Montaigne)

Perhatikan dua pertanyaan berikut ini: Mengapa Isteri sulit tunduk kepada Suami? Mengapa Suami sulit untuk mengasihi Isteri?
The Iceberg Phenomena. Sebuah gambaran permasalahan pasutri sebagaimana kita melihat fenomena gunung es, di mana permasalahan tersebut baru pada permukaannya. Dan sesungguhnya permasalah sebenarnya lebih besar. Hal ini bisa dipahami mengingat pernikahan dipengaruhi oleh masa lalu masing-masing.
Pernikahan lebih banyak dipengaruhi oleh masalah masa lalu (faktor predisposisi) yang belum terselesaikan. Faktor-faktor lain seperti masalah ekonomi, konflik, bencana, dll, hanya faktor pencetus (faktor precipitasi).
Perkawinan terjadi oleh empat pribadi yakni: antara Pribadi Dewasa Pria + Pribadi Kanak-kanak Pria dengan Pribadi Dewasa Wanita + Pribadi Kanak-kanak Wanita.
Masalah masa lalu inilah yang justru merupakan salah satu penghalang terbesar yang dapat merintangi kebahagiaan dalam pernikahan, sebab pengalaman masa lalu “mengendalikan” kehidupan Anda saat ini. Sikap Anda terhadap pasangan, anak, dan orang lain, kemungkinan besar dapat ditemukan dalam sikap & reaksi Anda yang Anda “pelajari/terima” ketika masih kanak-kanak.

Contoh Tipe Relasi Suami-Isteri

Pleaser
·         Melakukan segala sesuatu hanya untuk menyenangkan pasangan
·         Sebenarnya dilakukan bukan karena cinta, melainkan untuk mendapatkan penerimaan/cinta pasangan
·         Lebih mengandalkan perasaan dibandingkan akal sehat, sehingga: sulit untuk berkata “tidak”, lebih sering mengalah/berkorban, kurang objektif.

Controller
·         Suka mengontrol/mengatur pasangannya, supaya memperoleh rasa hormat/respek
·         Terlalu mengandalkan rasio (objektifitas tinggi), sehingga: empati rendah, miskin emosi, hambar, mudah marah, legalis, perfeksionis.

Hubungan antara Peran Suami-Isteri Terhadap Keuangan Keluarga

Keluarga dan pekerjaan merupakan dua hal yang tidak terpisahkan, sebab keduanya saling mempengaruhi. Pekerjaan menghasilkan income, yang kemudian akan menentukan standar kehidupan keluarga tersebut.

Gambaran ideal/tradisional
Laki-laki sebagai providers sedangkan Perempuan sbg homemakers. Pada kondisi saat ini mulai terjadi pergeseran. Wanita Bekerja: Pendidikan meningkat yang berpengaruh munculnya tuntutan pendapatan, karir, jabatan meningkat, pengaruh meningkat, kesadaran (awareness) terhadap personal option meningkat dan timbulnya kebutuhan untuk self-expression & self-fulfillment.

Power in Relationship & Decision Making
Tingkat penghasilan suami-isteri berpengaruh terhadap besarnya kekuasaan masing-masing dalam pengambilan keputusan. Uang sering diterjemahkan dengan kekuasaan. Jadi ketika suami-isteri bekerja, konsep tradisional di mana suami yang selama ini sebagai single power, mulai harus berbagi. Bagaimana jika penghasilan isteri lebih besar? Posisi tawar menawar isteri bekerja juga semakin tinggi, sehingga jika mereka merasa tidak bahagia, mereka tidak takut untuk (mengancam) bercerai.

Kebahagiaan Pernikahan
Mana yang lebih bahagia, keluarga yang double income atau single income? (tingkat kepuasan pernikahan). Hasil riset mengungkapkan bahwa:
1. Isteri rumahan lebih bahagia daripada isteri yang bekerja (gaji kecil, status rendah, dll)
2. Isteri yang bekerja lebih bahagia daripada isteri rumahan
3. Para suami, baik dari isteri rumahan maupun isteri bekerja, tingkat kebahagiaannya sama
Apa artinya?
·         Sikap/pandangan masing-masing pasangan terhadap pekerjaan merupakan hal yang sangat penting
·         Jika suami/isteri tidak setuju dengan pekerjaan pasangannya, atau jika isteri bekerja hanya karena faktor ekonomi semata, maka konflik dan ketegangan cenderung terjadi
·         Bagi para isteri yang lebih suka menjadi ibu rumah tangga akan merasa bekerja menjadi sebuah keterpaksaan
·         Sedangkan bagi para suami yang berprinsip bahwa hanya laki-laki saja yang bekerja akan merasa terancam perannya karena memiliki isteri yang bekerja, apalagi kalau penghasilan isteri lebih besar (rendah diri)
·         Bagaimana dengan waktu bersama?
·         Bagaimana dengan beban isteri bekerja? Berarti suami (suami lebih sedikit perannya di rumah)
·         Setelah uang, hal yang paling menentukan apakah seorang wanita yang menikah itu bahagia atau tidak adalah seberapa besar keterlibatan suaminya dalam urusan rumah tangga.

Beberapa Prinsip tentang Peran Suami-Isteri
Peran yang tepat akan membawa kebersamaan daripada keterpisahan. Kita sedang membagi tanggung-jawab, bukan sekedar membagi tugas (tugas suami ini & tugas isteri itu). Suami-isteri adalah “satu daging”, yang juga berarti satu tim kerja.
Beberapa Prinsip tentang Peran Suami-Isteri, peran yang tepat dapat diperoleh dengan mempertimbangkan kekuatan dan kelemahan pasangan. Misal: kalau biasanya pengaturan keuangan keluarga dianggap sebagai “tugas” isteri, namun kalau ternyata suami lebih efektif dalam mengelolanya, maka suami bisa mengambil alih.
Beberapa Prinsip tentang Peran Suami-Isteri, peran yang tepat bersifat tidak kaku (fleksibel). Misal: kalau isteri juga bekerja, maka tidaklah fair kalau semua tugas rutin rumah tangga dibebankan pada dirinya saja. Peran yg tepat rela berkorban: Ada beberapa pekerjaan yang “kalau bisa” bukan dia yang melakukannya. Misal: bangun di tengah malam karena si kecil menangis, membantu anak (kecil) buang air besar, dll

Money Matters
“Cinta akan uang adalah akar dari segala kejahatan” Dapat disejajarkan dengan:”Salah dalam mengelola keuangan merupakan akar dari segala jenis permasalahan manusia”
Eksistensi uang bukanlah masalah utamanya, melainkan sikap (attitude) terhadap uang dan ketidakefisienan (inefficiency) dalam mengelola uang secara bijaksana. Baca: Ibr 13:5

Apa yang Alkitab katakan tentang uang?
1.     Uang harus dipandang secara realistis. Artinya: uang dan kekayaan hanya bersifat sementara (temporer) Contoh: Luk 12:16-21. Mengapa Yesus mengatakan bahwa orang kaya tersebut adalah bodoh? Karena orang tersebut hanya kaya secara duniawi tapi miskin dalam relasi dengan Allah karena baginya uang menjadi pusat (center) hidup.
2.     Uang disediakan oleh Allah (Fil 4:19; Mat 6:25-34). Oleh karena itu, semua yang kita miliki adalah “milik” Allah. Kita diminta untuk bergantung pada pemeliharaan dan penyertaan (providensia) Allah (bagi orang beriman mencegah kekuatiran)
3.     Uang dapat menjadi sumber masalah: a). Vertikal: menghambat pertumbuhan rohani. Yesus mengatakan bahwa uang dapat menjadi allah lain dihati kita, sehingga kita harus “memilih” siapa yang menjadi Allah kita: Yesus atau Uang. b). Horizontal: sumber konflik dengan sesama (Luk 12:13-15)
4.     Uang harus dikelola secara bijaksana. “God’s own it, and I manage it” Tuhan yang empunya, kita hanya sebagai pengelola oleh karena itu: a. Gained honestly, b. Invested carefully, c. Spent realistically, d. Shared joyfully.

Penyebab Masalah Keuangan
1. Nilai-nilai yang terdistorsi. Materialisme, Hedonisme, Konsumerisme, Instan, Keserakahan, dll.
2. Penggunaan yang tidak bijak
a. Impulsif (contoh: suami yang selalu “menggandeng mesra” isterinya kalau di mall karena takut lepas dan tak terkendali dalam berbelanja)
b. Tidak ada limitasi
c. Spekulasi, akarnya: ingin cepat kaya (contoh: seorang bapak yang ludes uang pensiunnya karena spekulasi di bisnis yang tidak dikuasainya).
d. Kredit. Beberapa hal yang perlu diperhatikan:
• Menggunakan kartu kredit seolah-olah tidak mengeluarkan uang (riil), sehingga godaan untuk belanja sangat besar (impulsive buying)
• Penggunaan credit card (yang tidak bijak) merupakan cara “membelanjakan uang yang tidak kita punya dan membeli barang-barang yang tidak kita butuhkan”
3. Perencanaan (budget) yang lemah
Fungsi budget:
· mencegah impulsivitas (harus mempertimbangkan prioritas)
· kontrol pengeluaran
· menyisihkan untuk tabungan (saving)
· antisipasi masalah untuk menghindari/mencegah stress
· alokasi pemberian/persembahan
4. Kurang memberi. Ada 3 area menurut Alkitab: Tuhan, sesama tubuh Kristus, dan orang miskin. Dilakukan dengan kacamata iman (memberi dan menerima adalah paralel bagi Tuhan). Ada janji berkat Tuhan di balik persembahan kita berikan, meski berkat Tuhan tidak selalu identik dengan uang.

Menghadapi Pasangan yang Terlalu Banyak Belanja
1.     Sadari bahwa suami-isteri adalah satu tim dalam masalah keuangan. Kemungkinan besar tidak ada seorang suami/isteri pun yang suka “diingatkan” Mengapa? Ia merasa tidak dipercaya, tidak dihargai, dll  Perhatikan! Adalah lebih penting menjaga relasi yang sehat dibandingkan detail daftar pengeluaran. Jika kita menempatkan relasi suami-isteri sebagai satu tim, maka akan lebih mudah untuk mencari solusi terhadap pengeluaran yang tidak disepakati.
2.     Mencoba memahami alasan di balik sikap pasangan tersebut. Akar dari masalah ini adalah: “mencari rasa aman” (security) Misal: Kalau isteri selalu beli make up bermerk keluaran terbaru terciptanya rasa aman untuk selalu terlihat cantik di mata suami.
3.     Memberikan pemahaman bahwa kita harus “hidup” di bawah jumlah penghasilan. Kuncinya adalah: budget planning yang baik.
Kesimpulan; Sikap terbaik terhadap keuangan adalah STEWARDSHIP. All of our lives, resources, and energies belong to God. (NP/pwy)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar